selamat datang di blog saya
bagi temen temen yang mau masuk
perkenalkan kami dari supriatha media
adalah creator pembuatan skripsi dan kreator studio
beberapa cerita
Doraemon Go
“Bu kan lusa Oil ada ulangan harian.
Terus kalau Oil bisa dapat nilai tinggi, enggak ada hadiah gitu?”
Sang Ibu sedang menggendong anak yang lebih kecil dari Oil itu seketika menoleh mendengar pertanyaan dari anak sulungnya. Dia mengelus pelan puncak kepala gadis remaja yang berumur 16 tahun itu sambil tersenyum.
“Oil mau apa?”
Sang Ibu sedang menggendong anak yang lebih kecil dari Oil itu seketika menoleh mendengar pertanyaan dari anak sulungnya. Dia mengelus pelan puncak kepala gadis remaja yang berumur 16 tahun itu sambil tersenyum.
“Oil mau apa?”
Senyum Oil langsung mengembang
begitu mendengar tiga kata yang keluar dari mulut Ibunya. Saking semangatnya,
cewek itu sampai hendak jatuh dari atas kursi belajar miliknya. Matanya
berbinar-binar, sedang pikirannya mengambang kemana-mana.
Tiba-tiba otaknya berhenti berputar, mata gadis itu jelalatan memandang seluruh rumah yang dipenuhi warna pink biru yang merupakan kombinasi warna kesukaannya. Ibunya bergidik ngeri melihat tingkah anaknya, dengan cekatan dia membaringkan anaknya yang paling kecil kemudian mendekat ke arah Oil.
Tiba-tiba otaknya berhenti berputar, mata gadis itu jelalatan memandang seluruh rumah yang dipenuhi warna pink biru yang merupakan kombinasi warna kesukaannya. Ibunya bergidik ngeri melihat tingkah anaknya, dengan cekatan dia membaringkan anaknya yang paling kecil kemudian mendekat ke arah Oil.
“Kenapa sih Kak? Udah kaya orang
gila deh senyam senyum.”
“Ehehe, gini Bu, Oil mau dibeliin … Ibu tahu kan beberapa waktu yang lalu orang luar negeri membuat game baru! Gamenya terkenal banget, baru beberapa jam aja penggemarnya udah lebih dari 100 orang.”
“Terus?” Ujar Ibunya sambil memasang wajah penasaran.
“Ya namanya Pokemon Go, jadi Oil mau dibeliin HP supaya bisa download game Pokemon Go, gitu.” Ucap Oil antusias, sedang Ibunya cuma terdiam.
“Denger yah Oil, kamu sekarang fokus aja dulu ke pelajarannya, karena udah kelas XI. Kalau nanti memang ada rejeki, kamu pasti dapat kok Tokemon Tokemon itu.”
Oil cemberut mendengar ucapan Ibunya yang ngawur itu, “bukan Tokemon, tapi Pokemon Bu!”
“Apa sajalah, Ibu enggak ngerti mainan anak jaman sekarang. Mending kamu belajar yang rajin, jangan main melulu. Ibu mau masuk ke kamar dulu.”
“Ehehe, gini Bu, Oil mau dibeliin … Ibu tahu kan beberapa waktu yang lalu orang luar negeri membuat game baru! Gamenya terkenal banget, baru beberapa jam aja penggemarnya udah lebih dari 100 orang.”
“Terus?” Ujar Ibunya sambil memasang wajah penasaran.
“Ya namanya Pokemon Go, jadi Oil mau dibeliin HP supaya bisa download game Pokemon Go, gitu.” Ucap Oil antusias, sedang Ibunya cuma terdiam.
“Denger yah Oil, kamu sekarang fokus aja dulu ke pelajarannya, karena udah kelas XI. Kalau nanti memang ada rejeki, kamu pasti dapat kok Tokemon Tokemon itu.”
Oil cemberut mendengar ucapan Ibunya yang ngawur itu, “bukan Tokemon, tapi Pokemon Bu!”
“Apa sajalah, Ibu enggak ngerti mainan anak jaman sekarang. Mending kamu belajar yang rajin, jangan main melulu. Ibu mau masuk ke kamar dulu.”
Oil hanya
bisa tersenyum pasrah, setelah kepergian Ibunya gadis itu langsung berimajinasi
ria. Membayangkan bagaimana nanti kalau benar-benar punya game itu, pasti dia
akan memiliki banyak Pokemon. Apalagi dia sangat suka sama Pokemon listrik yang
sudah lama dikenal dengan sebutan Pikachu itu.
Namun
pikirannya kembali ke masa sekarang, saat HP gadis itu berdering menandakan ada
panggilan masuk. Dengan segera dia melihat nama orang yang meneleponnya. Dia
memicing ketika mengetahui bahwa telepon itu dari: Radika Gesdian. Merupakan
teman sekelas yang mengenalkannya dengan Pokemon sekaligus orang yang dia
taksir diam-diam belakangan ini.
“Halo?”
“Oil? Bagaimana, Ibu kamu mau membelikan HP sekalian dengan game itu?”
“Belum Dik, mungkin nunggu ulangan harian nanti selesai.”
“Oh gitu, ya udah gak pa-pa kali, kan kita bisa maen sama-sama.”
“Haha kamu memang teman yang mengerti! Kalau begitu aku tutup yah, mau belajar biar bisa dapat Pokemon!”
“Baiklah, belajar yang semangat! Jangan kalah sama Dika!”
Oil memutuskan sambungan teleponnya sambil terkekeh, Dika memang cowok yang berbeda. Dia selalu bisa membuat gadis itu tersenyum, sepelik apapun masalah yang Oil dapatkan, cowok itu pasti yang menyemangatinya. Makanya Oil jadi naksir sama Dika —nama panggilan dari Oil.
“Oil? Bagaimana, Ibu kamu mau membelikan HP sekalian dengan game itu?”
“Belum Dik, mungkin nunggu ulangan harian nanti selesai.”
“Oh gitu, ya udah gak pa-pa kali, kan kita bisa maen sama-sama.”
“Haha kamu memang teman yang mengerti! Kalau begitu aku tutup yah, mau belajar biar bisa dapat Pokemon!”
“Baiklah, belajar yang semangat! Jangan kalah sama Dika!”
Oil memutuskan sambungan teleponnya sambil terkekeh, Dika memang cowok yang berbeda. Dia selalu bisa membuat gadis itu tersenyum, sepelik apapun masalah yang Oil dapatkan, cowok itu pasti yang menyemangatinya. Makanya Oil jadi naksir sama Dika —nama panggilan dari Oil.
Oil menutup
buku pelajarannya, cewek itu memasukkan semuanya ke dalam tas. Dia beranjak
dari ruang tamu, kemudian kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan yang
bertuliskan: Kamar Oil. Cewek itu mencuci wajahnya, kemudian naik ke atas
tempat tidur. Menarik selimut hingga ke atas leher, dan mulai memejamkan
matanya.
“Pokemon Go! I’m Coming!” Ucapnya sebelum cewek itu benar-benar masuk ke dalam dunia mimpi yang penuh dengan cerita indahnya.
“Pokemon Go! I’m Coming!” Ucapnya sebelum cewek itu benar-benar masuk ke dalam dunia mimpi yang penuh dengan cerita indahnya.
Siang yang
terik sekali, Oil berjalan sendirian menuju taman yang terletak tak begitu jauh
dari tempat tinggalnya. Kaki gadis itu kerap kali menendang batu kecil yang
terletak sepanjang jalanan. Sehingga debu-debu beterbangan terkena angin dari
tendangan Oil, barulah dia terbatuk-batuk karena menghirup debu itu.
Matanya
langsung menyipit begitu melihat pemandangan live di taman, pasalnya sekitaran
20 anak seumuran dengannya—mulai dari cewek hingga cowok— yang ada di situ
semuanya sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Bahkan Dika juga ada di situ,
cowok itu tengah berjalan-jalan sambil terpaku pada HP layar 4,1 inch yang
bermerk Xiaomi itu.
Oil hendak
berlari namun tertahan karena Dika sudah berjalan menuju ke arahnya sambil
melambaikan tangannya. Oil tersenyum dan balas melayangkan tangan ke atas. Dika
langsung menarik tangan Oil ke salah satu bangku yang ada di situ. Kedua remaja
itu duduk sambil melihat pemandangan lautan penuh dengan manusia dan HP di
tangan yang tersebar di seluruh taman.
“Kayanya di
sini rame banget ya?”
Dika mengalihkan pandangannya ke Oil yang masih asyik melirik ke arah orang-orang itu. “Ya iya lah, di sini tuh banyak banget pokemonnya.”
Oil hanya ber-oh ria. “Terus kamu dapat banyak gak?”
“Banyak banget, nih bentar ya.” Dika langsung membuka aplikasi gamenya, sedang Oil menunggu tak sabaran di samping cowok yang terkenal dengan sebutan Dikemon —DikaKemon.
Dika mengalihkan pandangannya ke Oil yang masih asyik melirik ke arah orang-orang itu. “Ya iya lah, di sini tuh banyak banget pokemonnya.”
Oil hanya ber-oh ria. “Terus kamu dapat banyak gak?”
“Banyak banget, nih bentar ya.” Dika langsung membuka aplikasi gamenya, sedang Oil menunggu tak sabaran di samping cowok yang terkenal dengan sebutan Dikemon —DikaKemon.
Mata gadis
itu sedari tadi tak berhenti memandangi layar, kadang dia tersenyum geli,
kemudian takjub, segala ekspresi ditampakkannya begitu melihat hasil tangkapan
Pokemon Dika. Semangat gadis itu semakin menggebu-gebu saat Dika mengajaknya
untuk mencari pokemon lagi.
“Di sini
lagi nih Dik, maju-majuan dikit…” Kedua anak itu berjalan mengikuti petunjuk
yang ada di HP. “…nah itu itu dia Pokemonnya, tangkap Dika!” Teriak Oil kelewat
semangat, sehingga beberapa orang melihat aneh ke arah cewek itu. Seketika Oil
menarik Dika untuk pergi dari taman.
Cewek itu
terduduk di depan kafe sambil menarik napas panjang. Dika yang baru saja
kembali langsung menempelkan sebotol minuman dingin di pipi Oil. Cewek itu
langsung tersenyum saat Dika duduk di sampingnya sambil menegak setengah dari
air mineral itu.
“Thank ya
Dik!”
“Yoi,”
“Yoi,”
“Emm Dika?”
“Ya? Ada apa?”
“Ehh enggak kok,” Oil tersenyum malu sambil menyibukkan diri dengan meminum habis air mineralnya. Dika menatap aneh ke arah cewek itu.
“Ya? Ada apa?”
“Ehh enggak kok,” Oil tersenyum malu sambil menyibukkan diri dengan meminum habis air mineralnya. Dika menatap aneh ke arah cewek itu.
“Jadi kapan
nih punya Pokemon?”
Oil menghela napasnya panjang. “Masih seminggu lagi Dik, itu pun kalau aku beneran dapat nilai yang paling tinggi! Kalau enggak kan percuma dong aku belajar mati-matian kaya gini.”
“Loh kok ngomong gitu sih? Tugasnya kita itu kan memang belajar, hal yang diluar dari sekolah itu cuma kebutuhan. Sedangkan belajar itu baru kewajiban. Kalau emang rejeki, pasti Ibu kamu ngerti kok.”
Oil menunduk, “iya deh maaf, aku janji kok belajarnya bukan untuk dapat Pokemon lagi. Tapi supaya tambah pinter, biar bisa nyaingin kamu!” Ujar Oil sambil ketawa, membuat Dika juga ikut tertawa di sampingnya.
Oil menghela napasnya panjang. “Masih seminggu lagi Dik, itu pun kalau aku beneran dapat nilai yang paling tinggi! Kalau enggak kan percuma dong aku belajar mati-matian kaya gini.”
“Loh kok ngomong gitu sih? Tugasnya kita itu kan memang belajar, hal yang diluar dari sekolah itu cuma kebutuhan. Sedangkan belajar itu baru kewajiban. Kalau emang rejeki, pasti Ibu kamu ngerti kok.”
Oil menunduk, “iya deh maaf, aku janji kok belajarnya bukan untuk dapat Pokemon lagi. Tapi supaya tambah pinter, biar bisa nyaingin kamu!” Ujar Oil sambil ketawa, membuat Dika juga ikut tertawa di sampingnya.
—
“Huftt!
Ulangan yang tadi lumayan juga yah Dik? Kira-kira aku dapat nilai berapa nih?”
“Enggak tuh, biasa aja. Malah sulit waktu kita disuruh tugas kelompok kemaren.” Ujar Dika memegang pulpennya.
Biasa saja? Dika cuma bilang soal tadi biasa saja? Padahal waktu menjawab soalnya, Oil mencak-mencak pengen menghantamkan kepalanya ke dinding saking susahnya. Sementara Dika cuma ngomong polos kaya gitu? Oke! Oil mengerti, Dika memang pintar dan selalu jadi ranking di kelas mereka. Wajar saja kalau dia bilang soalnya enggak sulit.
“Enggak tuh, biasa aja. Malah sulit waktu kita disuruh tugas kelompok kemaren.” Ujar Dika memegang pulpennya.
Biasa saja? Dika cuma bilang soal tadi biasa saja? Padahal waktu menjawab soalnya, Oil mencak-mencak pengen menghantamkan kepalanya ke dinding saking susahnya. Sementara Dika cuma ngomong polos kaya gitu? Oke! Oil mengerti, Dika memang pintar dan selalu jadi ranking di kelas mereka. Wajar saja kalau dia bilang soalnya enggak sulit.
Dika yang
mengerti dengan tatapan aneh dari Oil langsung menutup buku paket Kimianya.
“Oke oke aku bercanda, soalnya memang sulit. Tapi enggak sesulit biasanya,
buktinya aku bisa jawab!”
“Iya bisa jawab karena kamu pintar, nah coba aku…” Belum selesai Oil menyambung kalimatnya, tiba-tiba saja Dika langsung nyeletuk. “Makanya jangan mikirin Pokemon mulu, baru deh ulangannya kacau!”
Oil menatap sebal sahabatnya itu. Tapi ucapan Dika memang ada benaranya, saking fanatiknya dengan Pokemon, Oil rela membuang waktunya ke warnet cuma mau mantengin komentar-komentar dari para gamers yang memainkan game itu. Bahkan beberapa poster Pikachu pun memenuhi dinding kamarnya.
“Iya bisa jawab karena kamu pintar, nah coba aku…” Belum selesai Oil menyambung kalimatnya, tiba-tiba saja Dika langsung nyeletuk. “Makanya jangan mikirin Pokemon mulu, baru deh ulangannya kacau!”
Oil menatap sebal sahabatnya itu. Tapi ucapan Dika memang ada benaranya, saking fanatiknya dengan Pokemon, Oil rela membuang waktunya ke warnet cuma mau mantengin komentar-komentar dari para gamers yang memainkan game itu. Bahkan beberapa poster Pikachu pun memenuhi dinding kamarnya.
“Oil
Verdana, selamat nilai ulangan kamu paling tinggi untuk ulangan kali ini!”
Suara seorang wanita memecah keheningan di kelas XI-A. Beberapa pasang mata
menatap takjub ke arah Oil yang masih termenung di mejanya. Dika langsung
menyikut siku gadis itu, barulah Oil tersadar dari lamunannya.
Oil segera maju ke depan untuk melihat hasil kerja kerasnya seminggu ini. Dengan penuh semangat dia memperlihatkan hasil ulangannya kepada Dika. Cowok itu hanya tersenyum mengacungkan jempolnya dan memberikan ucapan selamat kepada Oil. “Ciee, akhirnya bisa dapat nilai paling tinggi.” Dika ketawa, sedang Oil cuma tersenyum manis menampakkan jejeran gigi putihnya.
Oil segera maju ke depan untuk melihat hasil kerja kerasnya seminggu ini. Dengan penuh semangat dia memperlihatkan hasil ulangannya kepada Dika. Cowok itu hanya tersenyum mengacungkan jempolnya dan memberikan ucapan selamat kepada Oil. “Ciee, akhirnya bisa dapat nilai paling tinggi.” Dika ketawa, sedang Oil cuma tersenyum manis menampakkan jejeran gigi putihnya.
Lepas saja
bel pulang berbunyi, Oil langsung ke luar kelas sambil menenteng kertas
ulangannya. Dika yang masih di belakang ikut berlari mengejar cewek itu. Oil
berlari cepat sekali, bahkan Dika kalap dibuatnya. Cewek itu sangat bersemangat
untuk memberitahu kabar bahagia ini ke Ibunya. Kebetulan saat itu sang Ibu
tengah berada di luar bersama Sun —Adiknya yang paling kecil.
“Ibu, Ibu…”
Teriaknya.
Sang Ibu hanya menatap sekilas wajah anak gadisnya, kemudian pandagannya terjatuh ke seorang cowok di belakang Oil. Dika tersenyum kepada wanita paruh baya di depannya. Dengan sopan dia mencium tangan Ibu Oil.
Sang Ibu hanya menatap sekilas wajah anak gadisnya, kemudian pandagannya terjatuh ke seorang cowok di belakang Oil. Dika tersenyum kepada wanita paruh baya di depannya. Dengan sopan dia mencium tangan Ibu Oil.
“Bu, Oil
dapat nilai paling tinggi di kelas!” Ujar Oil sambil menyerahkan kertas putih
yang bertuliskan angka 100 itu.
Ibunya langsung menerima dan melirik isinya sambil tersenyum-senyum senang. Dia mengelus pelan rambut panjang milik anak gadisnya itu. Oil kemudian cengar-cengir sambil menggesekkan sepatu di depan Ibunya. Dika paham sekali kode cewek itu, pasti ada maunya, cowok itu cuma tersenyum menatap dua orang wanita di depannya.
Ibunya langsung menerima dan melirik isinya sambil tersenyum-senyum senang. Dia mengelus pelan rambut panjang milik anak gadisnya itu. Oil kemudian cengar-cengir sambil menggesekkan sepatu di depan Ibunya. Dika paham sekali kode cewek itu, pasti ada maunya, cowok itu cuma tersenyum menatap dua orang wanita di depannya.
“Ada apa?”
Tanya Ibunya karena aneh dengan gelagat Oil.
“Masa Ibu lupa? Kan kalau Oil bisa dapat nilai tinggi bakal dibeliin HP sama Pokemon Go-nya?” Oil mengingatkan Ibunya, sejurus wanita itu terdiam seakan mengingat-ngingat sesuatu. Kemudian dia tersenyum mengerti.
“Iya, Ibu enggak akan lupa kok. Malah Ibu udah beliin kamu si mainan-mainan itu.” Ucap Ibunya.
“Serius? Oil udah dibeliin?” Oil memastikan sekali lagi.
“Iya, ya sudah Ibu ambil dulu yah soalnya ada di dalam.” Ibunya beranjak, sementara Oil langsung menggendong Sun. Dika mendekati anak kecil yang ada di Oil. Cowok itu menatap gemas ke arah Sun, sedangkan Oil mencium-cium pipi Adiknya dengan semangat hingga Sun merengek karena tak suka dicium seperti itu.
“Masa Ibu lupa? Kan kalau Oil bisa dapat nilai tinggi bakal dibeliin HP sama Pokemon Go-nya?” Oil mengingatkan Ibunya, sejurus wanita itu terdiam seakan mengingat-ngingat sesuatu. Kemudian dia tersenyum mengerti.
“Iya, Ibu enggak akan lupa kok. Malah Ibu udah beliin kamu si mainan-mainan itu.” Ucap Ibunya.
“Serius? Oil udah dibeliin?” Oil memastikan sekali lagi.
“Iya, ya sudah Ibu ambil dulu yah soalnya ada di dalam.” Ibunya beranjak, sementara Oil langsung menggendong Sun. Dika mendekati anak kecil yang ada di Oil. Cowok itu menatap gemas ke arah Sun, sedangkan Oil mencium-cium pipi Adiknya dengan semangat hingga Sun merengek karena tak suka dicium seperti itu.
“Aduh
cup-cup, jangan nangis Sun. Bentar lagi Kakak bakal dapat Pokemon, nanti Kak
Oil bakalan lihatin ke kamu deh.” Ucap Oil.
“Dia gak mau mainan kaya gitu Oil, anak kecil juga mana ngerti dia. Aku mau coba gendong boleh?” Tambah Dika sambil mencoba menggendong Sun. Oil langsung memindahkan Sun ke tangan Dika saat Ibunya sudah kembali dengan sebuah bungkusan besar di tangannya.
“Dia gak mau mainan kaya gitu Oil, anak kecil juga mana ngerti dia. Aku mau coba gendong boleh?” Tambah Dika sambil mencoba menggendong Sun. Oil langsung memindahkan Sun ke tangan Dika saat Ibunya sudah kembali dengan sebuah bungkusan besar di tangannya.
Oil melirik
penuh ke bungkusan itu, sementara Ibunya seperti mengumpet-ngumpetkan
hadiahnya. Wanita paruh baya itu ketawa melihat tingkah Oil, kemudian
menyerahkan apa yang pantas didapat anaknya berkat usahanya semingguan ini.
Tanpa banyak
waktu Oil langsung membuka kado itu, dan Dika sepertinya juga penasaran dengan
hadiah apa yang akan didapat cewek itu. Kalau itu HP, kenapa bungkusannya besar
sekali? Pikiran Dika tiba-tiba terjatuh pada Pokemon. Atau jangan-jangan
hadiahnya adalah Pokemon asli? Entahlah Dika menghilangkan pikirannya dan
kembali melihat Oil yang sedang kesusahan membuka kadonya.
Mata Oil
seketika melotot, alis Dika langsung terangkat, sedang Ibunya cuma tersenyum
menatap ekspresi yang dilihatkan dua remaja itu. Oil menatap wajah Ibunya
seakan meminta penjelasan atas apa yang ada di hadapannya saat ini. Sungguh Oil
merasa pusing melihat hadiah yang didapatnya kali ini. Dika tertawa, Sun
langsung diserahkan kepada Ibunya.
“Bu? Kok
hadiahnya kaya gini?”
“Lah kemaren kamu minta apa? Udah bener itu.”
“Kan Oil maunya HP sama Pokemon Go! Bukan Doraemon Ibu!” Ujar Oil kembali protes, sementara Ibuanya lagi-lagi cuma ketawa enggak jelas. Bahkan Dika ikut tertawa bareng Ibunya Oil. Tatapan membara langsung ditujukan kepada dua orang itu. “Kalau Doraemon gimana mainnya Ibu? Ah Ibu gimana sih!”
Ibunya berhenti ketawa, kemudian menatap wajah Dika dan dibalas senyuman oleh cowok itu. “Bisa dong Oil, gini caranya.” Ibunya memegang boneka Doraemon yang hampir setengah dari tubuhnya. “Kamu pegang bonekanya, terus kamu teriak Go! Go! Go!” Ucap Ibunya setengah meledek.
“Aaaaah Ibu, sama Dika sama aja!” Ujar Oil frustasi, sambil merebut boneka itu dari Ibunya.
“Doraemon Go! Go! Go!” Teriak Dika meledek, Oil memukul tubuh cowok itu dan hanya bisa ketawa pasrah bersama Dika dan Ibunya.
“Lah kemaren kamu minta apa? Udah bener itu.”
“Kan Oil maunya HP sama Pokemon Go! Bukan Doraemon Ibu!” Ujar Oil kembali protes, sementara Ibuanya lagi-lagi cuma ketawa enggak jelas. Bahkan Dika ikut tertawa bareng Ibunya Oil. Tatapan membara langsung ditujukan kepada dua orang itu. “Kalau Doraemon gimana mainnya Ibu? Ah Ibu gimana sih!”
Ibunya berhenti ketawa, kemudian menatap wajah Dika dan dibalas senyuman oleh cowok itu. “Bisa dong Oil, gini caranya.” Ibunya memegang boneka Doraemon yang hampir setengah dari tubuhnya. “Kamu pegang bonekanya, terus kamu teriak Go! Go! Go!” Ucap Ibunya setengah meledek.
“Aaaaah Ibu, sama Dika sama aja!” Ujar Oil frustasi, sambil merebut boneka itu dari Ibunya.
“Doraemon Go! Go! Go!” Teriak Dika meledek, Oil memukul tubuh cowok itu dan hanya bisa ketawa pasrah bersama Dika dan Ibunya.
Tamat
No comments:
Post a Comment