Tuesday, July 16, 2019

Choose To Be Hurt


Choose To Be Hurt
              
               Aku mengangguk paham ketika guruku memberi penjelasan tentang pelajaran yang membosankan itu. Aku mencatat hal hal penting dari pembelajaran tersebut di buku catatanku yang berwarna hitam yang di penuhi oleh glitter. Aku sempat melihat ke luar jendela saat aku melihat tiga anak laki laki dari adik kelasku yang akan mengikuti lomba, yang kulihat hanya seorang lelaki kecil yang memukul glofnya.


“Apa yang kau lihat?”Tanya teman sebelah bangku ku  yang sedikit akrab denganku sejak masuk sekolah ini.
“Entahlah, apa yang dirasakan ketikaku bosan”Kataku singkat seolah tak peduli karena bad mood, dan langsung meninggalkan teman akrabku yang namanya Brian.
               Aku meninggalkan kelas saat guruku mempersilahkan semua untuk beristirahat. Aku pergi dan langsung duduk di bangku kantin yang kosong yang di depanya ada sebuah meja untuk tempat makan. Aku menduduki bangku dan ada Brian yang baru saja datang, mungkin dia mengikutiku.
 Brian duduk di bangku kosong sebelahku, aku hanya menatapnya sekilas.
“Kamu kurang sehat ya?” Tanyanya sambil memperbaiki jam tanganya.
“Nggak, aku hanya kurang semangat aja, reflek menerima pembelajaran membosankan itu, aku sangat sangat malas, sampai  aku gak mau nulis lagi” Jelasku  sambil mengusap lengan tanganku.
               Dia hanya mendengarkanku tanpa ia balas lagi. Aku memang tidak suka basa basi, apalagi dengan Brian itu malah membuatku canggung. Padahal dia mood boosterku.
“Aku mau mengambil ollate di mesin minuman kaleng, kamu mau aku ambilin apa?” Tawarku kepada Brian yang sedang menopang kepalanya ke punggung tangan.
“Sprite, nanti kamu yang bayar dulu ya, nanti aku ganti, males ambil uang di kantong, lagi PW” Jawabnya yang terbiasa, tapi untungnya dia selalu memberikanku lebih daripada harga yang aslinya.
               Aku menuju mesin minuman kaleng itu.
 Sesampainya aku mengacungkan jariku dan menunjuk susu Ollate dan sprite.
“Hah, tumben ollate coklat Cuma satu, lebih sedikit daripada sprite, wajar ollate itu sangat enak”Ujarku sambil memasukan uang koin ke mesin itu dan menunggu proses mesin itu.
               Kaleng ollate dan sprite sudah jatuh di kantong mesin itu dan aku hanya mengambilnya saja. Sialnya ada seorang wanita yang tidak tau diri mengambil ollateku dan langsung pergi.
“Hey orang gak tau diri kembalilah!” Kataku sambil memegang kerah belakang seorang wanita itu, yang pastinya bukan temanku dan dia pasti beda kelas XI.
“Mau apa kau!?” Tanyanya seperti tidak bersalah.
“Kamu sudah di sekolahin 11 tahun gak tau pelajaran harga diri ya?” Tanyaku sambil mengantong tanganku ke saku dengan wajah kesal.
“Ya memang aku sekolah sudah 11 tahun lamanya, tapi aku bisa menyimpulkan dengan kejadian tadi, siapa cepat dia dapat” Jawab perempuan itu sambil memamerkan lidahnya.
“Tapi yang membeli aku noona, lagi pula kau hanya menyimpulkan hal bodoh yang sangat memalukan” Kataku dengan sangat kesal.
“Apa salahnya berbagi? Ollate ini juga akan tersedia nanti” Katanya dengan seenaknya.
“Kembalikan nona, bukanya akan lebih baik jika berbagi kembali dengan ollate yang kau pegang sekarang kepadaku?” Kataku dengan menaiki alis kananku.
“Semoga harimu buruk nanti!” Kataku lagi pada perempuan bodoh itu dan langsung meninggalkanya.
               Perempuan itu berjalan mendahuluiku. Aku kembali lagi ke tempat mesin minuman itu. Sebaiknya aku mengambil minuman yang ada daripada tidak minum sama sekali.
               Aku mengambil Sprite lagi sebagai gantinya, aku mengambil uang koinku lagi lalu membayarnya. Aku terlihat pasrah dengan itu tadi, aku harus mengalah tapi bukan berarti kalah.
               Aku kembali ke bangku kantin dengan wajah baik baik saja, padahal aku sangat kesal dengan kejadian yang tadi.          
“Hai Kelly, kok lama banget sih, mana Ollatemu?” Tanya Brian sambil mengusap rambutnya.
“Mesinya lama, tadi Ollatenya habis kok.. ini sprite mu, aku ambil sprite sebagai gantinya” Jawabku dengan bohong, aku tau jika aku mengatakan sebenarnya, Brian akan mengejar perempuan sialan itu, aku tidak mau merepotkanya.
               Brian mengangguk mengerti sambil membuka spritenya yang dingin lalu tersenyum membentuk satu garis.
“Tumben disini aja, biasanya ngumpul bareng geng gengmu yang imut imut, gak terlalu bahaya, lemah” Kataku sambil membuka kaleng sprite.
“Ey! Lemah gimana, biar aja imut imut tapi banyak yang suka, ya kecuali kamu, kenapa nggak tertarik padaku?” Katanya sambil tertawa.
“Seleraku tinggi, tidak seperti yang  kau pikirkan” Kataku sambil memperbaiki posisi duduk.
“Yeah ku tau, tapi kau memang baik padaku” Katanya.
“ Walau suka kesel kalo aku ngejail, kurang kerjaan doang. Oiya aku nggak ngumpul gara gara temanku yang satu lagi pergi ke luar negri, makanya dia izin gak berangkat sekolah” Jawabnya panjang lebar.
“Makanya gak kelihatan dari tadi si Taerin” Kataku sambil meminum spriteku yang sebentar lagi akan kubuang.
“Oh ya ini uangnya, aku mau ke kelas dulu, makasih waktunya” Kata Brian sambil mengeluarkan uang di kantong sakunya.
“Nggak usah di kembaliin, dikit doang kok, just free” Kataku sambil  memegang tangan Brian yang masih ada di kantong saku celananya, ya memang tadi merepotkan harus membayar tiga kali tapi aku lebih pantient orangnya.
               Brian tersenyum manis dan langsung  pergi ke kelas dan aku saja yang duduk di bangku makan siang, sendirian. Aku berdiri dan melihat jam tanganku yang sudah melihatkan pukul 14.57 hampir jam tiga siang, aku masih punya banyak kegiatan lagi. Sekolah ini memang seperti kantor, karena di sesuai jadwal hari Senin pulang sekitar jam 8 malam, sungguh melelahkan.
               Malam pun tiba, aku berada di kelas sekarang. Guruku yang tadi asik membaca Koran, kini ia pergi meninggalkan kelas untuk sesuatu.
Aku  menoleh kekanan ketika ada sahabatku Fanny memanggil namaku dan mengisyaratkan ku untuk pergi ke bangkunya.
“Kenapa?”Tanya ku sambil berjongkok.
“Yey!, tau gak kalo tadi si Taerin ngechat aku apa?” Katanya dengan bahagia.
“Ngechat apa?”Tanyaku lagi sambil melihat kanan dan kiri.
“Dia tadi nembak aku buat jadi pacarnya, ooh so sweet, akhirnya aku bisa jadian, setelah berberapa lama berteman!”Jelasnya sambil mencubit pipiku.
“Waah.. kalian bisa terkenal dong di sekolah, punya pasangan yang terkenal terus tampan, baik lagi” kataku dengan tersenyum sedikit.
“Tumben ada orang yang nyataiin cinta lewat sosmed”Kataku lagi sambil menggeleng kepala.
“Entah lah. Mungkin Taerin tidak sabaran, karena masih ada di Las Vegas, ya kami jarang ketemu.. akhirnya aku punya pasangan yang populler di sekolah ini!” Katanya panjang lebar.
“Selamat ya!” Kataku singkat lalu meninggalkan Fanny.
“Eeeh!.. tunggu dulu!” Teriak Fanny sambil menarik tanganku untuk kembali ke bangkunya.
Semua murid tidak mendengar teriakan Fanny tadi karena kelasnya agak ramai, tidak ada guru itu kesempatan semua temanku, tapi aku tidak, hanya bosan lalu menompang kepalaku ke punggung tangan.
“Kenapa lagi?” Tanyaku dengan lelah.
“Hehehe.. kalo aku punya pacar Taerin kamu juga harus punya dong!” Kata Fanny dengan menaikan alisnya dua kali.
               Aku terkejut dengan kata Fanny, kenapa aku harus punya?
“Kau kan sahabtku Kelly.. si Taerin juga sahabatnya Brian sama si Steven, kamu pilih salah satu dari dua sahabatnya Taerin. Mereka bertigga juga sangat populler. Dan kau juga sangat akrab dengan Brian” Tawar Fanny sambil melirik Brian dan Steven.
“Apa kau gila Fan?, mana mungkin aku menyukai mereka berdua. Paling mereka juga gak punya waktu untuku karena banyak urusan” Jawabku terkejut.
“Tapi kulihat lihat Brian menyukaimu” Kata Fanny, aku tak peduli.
Aku langsung  pergi meninggalkan Fanny ke luar kelas tepat bell istirahat di bunyikan aku pergi ke luar sekolah, lalu aku memandang langit yang sudah petang, dan tiang lampu semua di nyalakan.
Aku berputar mengelilingi gedung sekolahku yang hampir setinggi gedung di kota, aku tak peduli aku hanya menimba ilmu di sekolahan ini dengan teman yang karakternya sangat berbeda.
Aku duduk di bangku kosong di taman, aku bisa melihat semua temanku dari luar jendela yang semua sedang ber istirahat di dalam kelas dan Brian yang sedang menguap mengantuk dasar pengantuk dan pemalas tapi dia juga giat melakukan perintah orang lain tarmasuk aku, yang Fanny lagi asik dengan percintaanya.
Steven, Brian, dan Taerin banyak semua murid yang menyukainya karena ketampananya dan kepopularanya, kecuali aku, mereka bertiga mau menjadi sahabatku dan Fanny. Aku hanya bersikap baik pada mereka dan aku juga tidak merasa suka padanya. Cukup keren saja, bisa bersahabat dengan teman popular di sekolah.
Aku berdiri dan memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri lalu merenggakan tanganku, sungguh lelah siang tadi.
               Tidak ada semenit, aku mendengar suara teriakan perempuan yang mengarahkan ke tempat parkir bawah gedung sekolah ini.
               Aku berlari dengan mengikuti sumber suara teriakan itu. Aku sudah di bawah gedung sekolah, yah di tempat parkir, aku memutar kepalaku dan tubuhku sambil melihat lihat, adakah orang disini.
               Aku bingung di mana letak perempuan itu, dan akhirnya perempuan itu teriak lagi seperti meminta bantuan.
“Tolong aku!!..”
“Ku mohon jangan lakukan!”
“Tolong.. siapapun!!”
               Aku pun menemukan perempuan itu yang sedang di rampok kopernya yang berwarna hitam bercorak putih.
Aku pikir perempuan itu hantu, ternyata manusia yang bersekolah di sekolah ini, perampok itu menggunakan seragam sekolahan ini, tapi aku tidak tau siapa dia, aku mengeluarkan ponselku untuk memotretnya, untung aku tidak ketahuan.
“Pts” suara ponselku saat ku potret dan mengeluarkan flash, mereka menengok ke arahku, dan aku foto dua kali yang ini kelihatan semua wajahnya.
               Satu dari dua pria itu maju dan berkata kasar kepadaku. Aku tak mau melewatkan ini dengan berlari. Aku membuka gambar hasil dari foto tadi.
“Kau lihat ini? Jika kau masih saja mengganggu perempuan itu. Aku akan melapor kepada kepala sekolah, kalo kamu tidak pantas mendapat masa depan baik!” Ujarku sambil memegang kerah pria itu.
“Dasar cewek lemah!, bisanya Cuma ngelapor” Kata pria kurang ajar itu, ia memegang tanganku dan mendorang sampaiku terjatuh.
               Aku berdiri lalu memejamkan mata, aku mengangkat kakiku lalu menendangnya  dari atas lalu melemparnya ke bawah lantai dan menarik dasinya.
“Aku melapor bukan karena lemas bodoh, aku menaati peraturan, ingat! Seorang yang setelah melakukan perbuatan harus menerima resikonya. Kau harus tanggung jawab” Jelasku dengan nada kasar.
“Aku takkan memberi tahu ulahmu yang memalukan ini kepada kapsek jika kau mengembalikan tas itu!” Jelasku lagi sambil menarik tangan pria itu lagi dan membantunya berdiri.
“Memang kau pahlawan disini hah?!” Katanya sambil menyakar punggung tanganku dengan silet kecilnya, mungkin dia ingin melukaiku tapi meleset.
“Malu lah atas perbuatanmu bukan malu karena senjatamu meleset!, pergola atau kau akan keluar dari sekolah ini selamanya!” Kataku sambil memukul kepalanya, agar aku bias membuatnya pusing.
               Pria itu berdiri tegak lalu “Maafkan aku, aku takkan mengulanginya lagi” Katanya lalu pergi dengan anak buah satunya yang bergemetar karena ketahuan.
               Aku menghembuskan napas kasar lalu menghampiri perempuan itu yang dari tadi di jambak rambutnya.
“Ini kopermu, lain kali jangan sendirian di tempat sepi” Kataku sambil membantu mengangkat kopernya.
“Terimakasih banyak… aku sangat berutang kepadamu!” Kata perempuan itu yang tak asing lagi ku dengar.
“Tunggu.. kamu perempuan yang mengambil Ollateku kan?” Kataku sambil member  plester kecil yang hampir habis ke bahunya, yang aslinya kubuat untuk menutupi luka di punggung tanganku, tapi itu lebih penting ku berikan kepada perempuan itu.
“Iya maaf, memang benar tetang katamu tadi siang, ku harap kau memaafkanku” Katanya sambil memohon.
               Aku tersenyum “ Tak apa, memang isi koper ini apa?” Tanyaku heran.
“Isinya uang untuk membantu masalah gedung sekolah ini, koper ini aku masukan ke bagasi mobilku, lalu ku ambil tadi, dan entah kenapa pria gila itu mau mengambil kperku” Jelasnya sambil berdiri.
               Memang semua murid dari sekolah ini tajir tajir. Yang semua berangkat dengan mobilnya sendiri, tak heran dengan kepopuleranya sekolah ini.
“Biar aku yang membawakan koper ini, berat juga” Kataku sambil menarik koper itu.
“Mau kemana?” Tanyaku lagi.
“Ke ruang kepala sekolah” Jawabnya dengan lembut. Padahal tadi siang dia sangat kasar.
               Aku mengangguk lalu menarik koper itu dengan tangan kanan, dan yang kiri membantu wanita itu jalan.
“Namamu siapa?” Tanya wanita itu.
“Aku Kelly Fenhart, panggil aku Kelly” Kataku dengan bersenyum.
“Kelly ya, makasih ya Kelly. Namaku Casey Vyna panggil Casey ya” Katanya dengan senyum ramah.
              



No comments: