Mengga Mentari
Di siang yang terik, aku menghela napas pelan dan mengusap
keringat dingin yang memenuhi seluruh tubuhku. Aku memegang tanganku sendiri
dengan erat,aku sedang mengikuti seleksi untuk mewakili sebuah lomba puisi di
sekolahku.
Aku mengantri dan mendapat posisi terakhir, aku memegang
kertas yang bermuat kata indah untuk memotivasi, yang ku karang sendiri. Semalam
aku hamper tidak bisa tidur hanya karena mengingat hari seleksi. Entah kenapa
aku sangat menyukai dengan satu kalimat lima kata itu, sejak dulu aku juga
gemar menulis. Mungkin sekarang diriku butuh bukti dari hobiku.
Aku sudah bersifat pesimis ketika temanku yang sudah menjadi
kebanggaan guru datang dengan sikap yang baik dan percaya diri, di kenal
seluruh anggota sekolah, dan tentunya sangat di sukai oleh banyak orang,
bagaimana aku tak merasa kalah jika dia sudah mendapatkan nilai plus dalam
setiap harinya.
“Selanjutnya!”
Seru kakak Osis yang sedang mengecek daftar seleksi lomba itu.
Aku maju dengan sikap yang sangat
gugup, keringat dinginku muncul sekali lagi.
Aku harus bias membuktikan apa yang aku usahakan tadi malam. Aku dengan
lantangnya mengucapkan judul puisi itu.
“Menggapai
Mentari…”
Sudah aku sudah tak tahan lagi,
selesai seleksi aku langsung berlari kecil menuju ke toilet dan membasuh muka.
Kututu pintu toilet cukup keras karena ada sesuatu yang membuatku merasa
kecewa.
“Kenapa
Laura ini sangat pemalu..” Kataku sendiri dengan mengusap wajahku yang di
basahi keringat.
Aku menegok ke kertas puisi itu,
seharusnya tadi aku bisa mengendalikan diri dengan benar, sikap gugupku membuat
aku menjadi ragu untuk menjadi juara.
Aku menuju
ke kelasku untuk mengikuti pelajaran, aku memasang wajah murungku karena aku
belum puas dengan hasilku sendiri.
“Hai!..
gimana seleksinya? Mantap? Hah!” Seru Celsyia lalu mengambil kertas puisiku
dengan kasar.
“Hei jangan
kau ambil kertas puisiku!” Seruku dengan mencoba mengambil kertas puisiku yang
diangkat tinggi kesamping dan kebawah agar aku tak bisa mengambilnya.
“Haha! Laura
laura… yang jelas kamu pasti tak bisa memenangkan seleksi lomba puisi itu!, hah
lihat, menggapai mentari!?” Ejek Celsyia dengan teman temanya.
Syukurlah ada guru yang dating
menghamipiri kami. Tapi sialnya Celsyia membuang kertas puisi itu ke tanah yang
becek.
“Celsyia!”
Teriaku padanya lalu aku di tinggal begitu saja. Aku langsung mengambil kertas
puisiku yang jatuh di tanah yang becek.
Itulah sisi buruk Celsyia. Pintarnya
di gunakan untuk memamerkan diri. Aku hampir saja menyesal karena kelakuanya
yang mematahkan semangatku.
Setelah pelajaran sekolah sudah
selesai aku langsung menuju ke rumah dengan hati yang gelisah dan hambar,
mungkin aku tak bisa lolos mengikuti seleksi itu. Aku sangat memalukan sekali.
“Aku
pulang..” Kataku dengan malas.
“Eh Laura,
baru pulang?” Kata Neneku yang sedang membaca Koran di ruang tamu.
“Wah Nenek!
Aku rinduu..” Seruku karena terkejut atas kedatangan Neneku. Sudah berberapa
bulan aku tidak datang kerumah nenek karena sibuk adanya pekerjaan.
Kami saling berpelukan dan aku melihat
sisi rumah tidak ada orang tuaku maupun kakaku yang biasanya memberikanku buku
cerita.
“Kenapa
bingung begitu?, lihat, orang tuamu dan kakakmu sedang perjalanan pergi ke luar
kota untuk mengunjungi rumah baru kakek Vlad, orang tuamu tidak ingin
merepotimu karena kamu sedang ingin sendiri. Tapi orang tuamu menyuruh nenek
untuk menemanimu selama tiga hari.” Jelas nenek panjang lebar.
Aku mengangguk paham dan
mengisyaratkan aku ingin pergi ke kamar. Aku merasa senang bahwa keluargaku
masih mengkhawatirkanku, lagi pula aku juga tidak menyukai liburan.
“Huuuh..
kacau sekali hari ini, semoga saja aku bisa lolos dari seleksi itu, dasar
Celsyia tidak tau diri, apa aku bisa patah semangat hanya karena dia membullyku
terus terusan? Aku sangat kesal!” Seruku di dalam kamar dan mengganti
pakaianku.
Aku melirik kertas puisiku dan
mengambilnya, tentu saja itu sudah tak berarti bagiku, aku meremas dan menyobek
kertas puisi itu, sungguh aku sangat kecewa.
“Ada apa
Laura?” Tanya nenek lalu duduk di sampingku.
“Tadi adalah
siang yang paling berat untuku. Aku mengikuti seleksi puisi aku memang gugup
tapi temanku Celsyia selalu membullyku itu sangat membuatku terpukul sekali
Nek..” Jelasku kepada nenek sambil memeluknya dan sialnya aku meneteskan air
mata.
“Sudahlah
Laura, itu hanya gangguan kecil, itu salah satu penyemangatmu untuk selalu
menjadi yang lebih baik lagi, dengar.. nenek punya cerita” Seru nenek sambil
mengusap air mataku.
Aku
mengangguk dan tersenyum manis untuk mendengarkan cerita dari Neneku.
“Dulu, ada
seekor kunang kunang yang ingin melawan singa, itu sangat mustahil kan tapi di
suatu hari, singa selalu meremehkan kunang kunang, kunang kunang tetap sabar
dan selalu berperilaku baik kepada singa, tapi makin lama kunang kunang jadi
sedih dan menangis, sorenya kunang kunang duduk diatas batu yang mengarah ke
mentari yang akan terbenam. Kunang kunang menikmati sunrise saat itu dan kunang
kunang ingin sekali menggapainya. Ketika hari menjadi gelap, warna punggung
kunang kunang menyala dengan terang, saat itu kunang kunang menjadi percaya
diri, dan membuatnya ingin melawan sang raja hutan, ketika malam sunyi
menghantui singa, singa sangat ketakutan, dan datanglah kunang kunang,
sealsinya kunang kunang ingin menggigit tubuh sang singa, tapi keinginan itu
hilang ketika melihat si singa ketakutan. Akhirnya si kunang kunang menuju ke
wajah singa dan meneranginya, singa terkejut atas kelakuanya si kunang kunang,
dan akhirnya si singa mengetahui rasa pertemanan si kunang kunang, dan terakhir
nya si kunang kunang dan singa berteman untuk seterusnya….” Cerita nenek yang
membuatku mengantuk.
“Waah..
nenek bagus sekali ceritanya, itu sangat memotivasiku!”Seruku dengan senyuman
yang lebar.
“Intinya
ketika kita diremehkan kita tidak boleh patah semangat kita harus bisa menjadi
lebih baik dan sebagaimanapun kita harus membawa kemanfaatan untuk orang lain”
Jelas nenek.
Aku mengangguk paham dan nenek
meninggalkanku untuk memasak kue kesukaaku dulu aku mengangguk lagi dan aku
sangat berterimakasih dengan nenek yang telah membuatku menjali lebih semangat
lagi.Aku mengambil kertas puisiku lagi dan menyatukanya lagi dari sobekan
sobekan kertas yang telah kubuat. Berjam jam aku berlatih membaca puisi aku
menuliskan judul di kertas putih bersih yang akan ku muat dengan kata
karanganku sendiri.
“Menggapai
Mentari”
Paginya aku siap berangkat sekolah,
nenek berpesan kepadaku untuk mengabaikan bullyan orang lain dan tetap selalu
bersemangat.Aku menjalani pelajaran dengan baik dan saat itu Calsyia merasa
aneh dariku, aku tetap mengabaikan apa kata bullynya kepadaku, dan disaat yang
aku tunggu datang juga yaitu pengunguman siapa saja yang lolos dari seleksi itu
untuk mengikuti lomba puisi dan lumayan hadiahnya.
“Saya akan
membacakan siapa saja yang terpilih untuk mewakili sekolah ini, yang utama
adalah Celsyiaa!” seru kakak osis dengan menunjuk Celsyia.
Semua
bersorak dan senang, Celsyia bersenyum sinis dan sangat sombong saat itu, aku
tetap akan berdiri melihat siapa saja yang akan mengikuti seleksi.Sudah ku
tunggu tetapi namaku belum juga dipanggil apa aku tidak lolos mengikuti
seleksi. Aku pun pergi meninggalkan tempat pengunguman.
“Eh Tunggu!
Sepertinya saya salah membacakanya” Kata kakak osis yang mendebarkanku.
“Yang ikut
ini bukan Learnia tapi Laura!” Seru kakak osis.
Aku langsung
berbalik badan dan diam ditempat, sampai aku mulai tersenyum lebar dan berlari
menuju ke kakak osis yang memanggilku.
“Yah ini dia
perwakilan dari sekolah kita ada tiga anak yang akan diikuti lomba puisi di
luar kota yang jauh sana!” Seru kakak osis yang membuatku bahagianya minta
ampun.
Akhirnya aku
bisa mengikuti lomba itu, aku sangat senang sekali, aku sekarang tidak akan
gugup lagi untuk tampil yang sebenarnya.Ketika aku dan teman ku ya salah
satunya Celsyia akan di ikutkan lomba puisi, besok adalah hari terakhir aku
berlatih dan besoknya lagi lombanya akan di segelarkan.
“Aku
pulangg…” Seruku dengan membawa kabar gembira
“ Kenapa cepat
cepat sekali?” Tanya nenek yang sedang bertelepon dengan seseorang.
Aku mengucapkan salam berberapa kali
tapi Nenek tidak mendengarnya, aku menyimak komunikasinya secara diam diam.
“Aku sudah
berberapa kali menyampaikan kepadamu bahwa si Laura juga butuh teman baru!”
Kata si penelpon itu.
“Tapi Laura
sudah ku ajarkan berteman di daerah sekolahnya dulu, jadi kasih dia waktu” Kata
Nenek dengan wajah murung.
Nenek melihatku dan langsung menutup
teleponya dan mengatakan sesuatu kepadaku.
“Laura besok
minggu kau ada waktukan?” Tanya nenek memastikan.
“Tapi nek
aku ada kabar gembira..” Kataku murung.
“Yah tapi
besok kita pergi ke luar kota!” Kata nenek dengan senyumnya yang lebar, namun
tidak denganku.
“Nek.. besok
aku ada lomba.” Kataku dengan wajah ragu.
Aku dan nenek saling bertatapan, entah
kenapa aku merasa bingung, sedih, dan bahagia, aku tidak tau apa yang harus aku
lakukan sekarang kecuali berlatih membaca puisi.
Tanpa satu kata pun aku disuruh makan
siang dahulu oleh nenek. Aku menuju dapur sambil berlatih puisi. Nenek tidak
mengajakku berbicara kecuali saat dia menerima pesan baru lewat telephonya.
“Selesai
makan, jaga rutinitasmu, besok nenek akan pergi ketempat lombamu, di gedung
sekolahmu kan? Pasti nenek dan keluargamu akan hadir..” Kata nenek aku pun
mengguk paham dan member senyum lebar.
Berjam jam aku berlatih sendiri di
dalam kamar dan memikirkan hal aneh dari nenek. Kenapa dan ada apa dengan
nenek. Pagi nya adalah pagi yang ku tunggu, aku bangun pagi pagi dan mencium
aroma masakan neneku, itu menggodaku untuk turun ke dapur tapi anehnya kenapa
nenek tidak ada di dapur, aku sudah mencarinya di mana mana, tapi yang
kutemukan adalah sebuah kertas yang berisi tulisan nenek, sama sepertinya apa
hal yang nenek beritahu.
“Aku berangkat..” Kataku murung,
padahal di rumah sepi, sepertinya nenek dan keluargaku tidak akan menghadiri
acara lomba puisiku.
Aku sudah berada di gedung sekolah
untuk memulai lombanya, aku melihat Calsyia dan temanku Verdia sedang berlatih
bersama, aku dengan beraninya menghampiri mereka dan duduk agak berjauhan,
Celsyia tersenyum sinis untuk menggambarkan aku sangat tak pantas.
“Sudah sana
pergilah!” Seru Celsyia dengan sikap kasar.
Lomba pun di
mulai aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri di saat giliranku aku harus
tetap percaya diri, dan disitulah pembuktianku, dengan intonasi yang tinggi ku
ucapkan
“Menggapai
mentari”
Di endingnya semua menyoraiku dan
kulihat tidak ada keluargaku disanaAku turun meninggalkan panggung dan aku
menuju ke lobby dari gedung sekolah. Aku kecewa kenapa keluargaku tidak datang.
Pengunguman kejuaraan pun di selenggarakan dan aku mendapatkan apa yang aku
inginkan, beribu ribu kata aku berterimakasih kepada diriku sendiri, namun
bahagiaku masih terhalang atas ketidak hadiran keluargaku.
Tanpa ku ambil hadiahnya.Aku langsung
pulang kerumah dengan rasa yang hambar. Dan Betapa terkejutnya aku ketika ku
memasuki rumah keluargaku menyoraiku dan memberiknku tepukan tangan yang
meriah.
“Yeaaaaay!!”
Seru keluargaku.
“Kenapa
kalian tidak hadir di perlombaanku” Tanyaku `dengan sedih dan bahagia merasa
bersatu.
“Kami ingin
mensrupriseimu sayang, kami juga tau kamu akan juara, kami tidak akan pernah
melupakanmu sayang” Kata ibuku.
Aku
berpelukan dengan semua keluargaku dan aku merasa tenang sekali.
No comments:
Post a Comment