Tuesday, October 29, 2019

Mengga Mentari


Mengga Mentari
Di siang yang terik, aku menghela napas pelan dan mengusap keringat dingin yang memenuhi seluruh tubuhku. Aku memegang tanganku sendiri dengan erat,aku sedang mengikuti seleksi untuk mewakili sebuah lomba puisi di sekolahku.
Aku mengantri dan mendapat posisi terakhir, aku memegang kertas yang bermuat kata indah untuk memotivasi, yang ku karang sendiri. Semalam aku hamper tidak bisa tidur hanya karena mengingat hari seleksi. Entah kenapa aku sangat menyukai dengan satu kalimat lima kata itu, sejak dulu aku juga gemar menulis. Mungkin sekarang diriku butuh bukti dari hobiku.
Aku sudah bersifat pesimis ketika temanku yang sudah menjadi kebanggaan guru datang dengan sikap yang baik dan percaya diri, di kenal seluruh anggota sekolah, dan tentunya sangat di sukai oleh banyak orang, bagaimana aku tak merasa kalah jika dia sudah mendapatkan nilai plus dalam setiap harinya.
“Selanjutnya!” Seru kakak Osis yang sedang mengecek daftar seleksi lomba itu.
          Aku maju dengan sikap yang sangat gugup, keringat dinginku muncul sekali lagi.  Aku harus bias membuktikan apa yang aku usahakan tadi malam. Aku dengan lantangnya mengucapkan judul puisi itu.
“Menggapai Mentari…”
          Sudah aku sudah tak tahan lagi, selesai seleksi aku langsung berlari kecil menuju ke toilet dan membasuh muka. Kututu pintu toilet cukup keras karena ada sesuatu yang membuatku merasa kecewa.
“Kenapa Laura ini sangat pemalu..” Kataku sendiri dengan mengusap wajahku yang di basahi keringat.
          Aku menegok ke kertas puisi itu, seharusnya tadi aku bisa mengendalikan diri dengan benar, sikap gugupku membuat aku menjadi ragu untuk menjadi juara.
Aku menuju ke kelasku untuk mengikuti pelajaran, aku memasang wajah murungku karena aku belum puas dengan hasilku sendiri.
“Hai!.. gimana seleksinya? Mantap? Hah!” Seru Celsyia lalu mengambil kertas puisiku dengan kasar.
“Hei jangan kau ambil kertas puisiku!” Seruku dengan mencoba mengambil kertas puisiku yang diangkat tinggi kesamping dan kebawah agar aku tak bisa mengambilnya.
“Haha! Laura laura… yang jelas kamu pasti tak bisa memenangkan seleksi lomba puisi itu!, hah lihat, menggapai mentari!?” Ejek Celsyia dengan teman temanya.
          Syukurlah ada guru yang dating menghamipiri kami. Tapi sialnya Celsyia membuang kertas puisi itu ke tanah yang becek.
“Celsyia!” Teriaku padanya lalu aku di tinggal begitu saja. Aku langsung mengambil kertas puisiku yang jatuh di tanah yang becek.
          Itulah sisi buruk Celsyia. Pintarnya di gunakan untuk memamerkan diri. Aku hampir saja menyesal karena kelakuanya yang mematahkan semangatku.
          Setelah pelajaran sekolah sudah selesai aku langsung menuju ke rumah dengan hati yang gelisah dan hambar, mungkin aku tak bisa lolos mengikuti seleksi itu. Aku sangat memalukan sekali.
“Aku pulang..” Kataku dengan malas.
“Eh Laura, baru pulang?” Kata Neneku yang sedang membaca Koran di ruang tamu.
“Wah Nenek! Aku rinduu..” Seruku karena terkejut atas kedatangan Neneku. Sudah berberapa bulan aku tidak datang kerumah nenek karena sibuk adanya pekerjaan.
          Kami saling berpelukan dan aku melihat sisi rumah tidak ada orang tuaku maupun kakaku yang biasanya memberikanku buku cerita.
“Kenapa bingung begitu?, lihat, orang tuamu dan kakakmu sedang perjalanan pergi ke luar kota untuk mengunjungi rumah baru kakek Vlad, orang tuamu tidak ingin merepotimu karena kamu sedang ingin sendiri. Tapi orang tuamu menyuruh nenek untuk menemanimu selama tiga hari.” Jelas nenek panjang lebar.
          Aku mengangguk paham dan mengisyaratkan aku ingin pergi ke kamar. Aku merasa senang bahwa keluargaku masih mengkhawatirkanku, lagi pula aku juga tidak menyukai liburan.
“Huuuh.. kacau sekali hari ini, semoga saja aku bisa lolos dari seleksi itu, dasar Celsyia tidak tau diri, apa aku bisa patah semangat hanya karena dia membullyku terus terusan? Aku sangat kesal!” Seruku di dalam kamar dan mengganti pakaianku.
          Aku melirik kertas puisiku dan mengambilnya, tentu saja itu sudah tak berarti bagiku, aku meremas dan menyobek kertas puisi itu, sungguh aku sangat kecewa.
“Ada apa Laura?” Tanya nenek lalu duduk di sampingku.
“Tadi adalah siang yang paling berat untuku. Aku mengikuti seleksi puisi aku memang gugup tapi temanku Celsyia selalu membullyku itu sangat membuatku terpukul sekali Nek..” Jelasku kepada nenek sambil memeluknya dan sialnya aku meneteskan air mata.
“Sudahlah Laura, itu hanya gangguan kecil, itu salah satu penyemangatmu untuk selalu menjadi yang lebih baik lagi, dengar.. nenek punya cerita” Seru nenek sambil mengusap air mataku.
Aku mengangguk dan tersenyum manis untuk mendengarkan cerita dari Neneku.
“Dulu, ada seekor kunang kunang yang ingin melawan singa, itu sangat mustahil kan tapi di suatu hari, singa selalu meremehkan kunang kunang, kunang kunang tetap sabar dan selalu berperilaku baik kepada singa, tapi makin lama kunang kunang jadi sedih dan menangis, sorenya kunang kunang duduk diatas batu yang mengarah ke mentari yang akan terbenam. Kunang kunang menikmati sunrise saat itu dan kunang kunang ingin sekali menggapainya. Ketika hari menjadi gelap, warna punggung kunang kunang menyala dengan terang, saat itu kunang kunang menjadi percaya diri, dan membuatnya ingin melawan sang raja hutan, ketika malam sunyi menghantui singa, singa sangat ketakutan, dan datanglah kunang kunang, sealsinya kunang kunang ingin menggigit tubuh sang singa, tapi keinginan itu hilang ketika melihat si singa ketakutan. Akhirnya si kunang kunang menuju ke wajah singa dan meneranginya, singa terkejut atas kelakuanya si kunang kunang, dan akhirnya si singa mengetahui rasa pertemanan si kunang kunang, dan terakhir nya si kunang kunang dan singa berteman untuk seterusnya….” Cerita nenek yang membuatku mengantuk.
“Waah.. nenek bagus sekali ceritanya, itu sangat memotivasiku!”Seruku dengan senyuman yang lebar.
“Intinya ketika kita diremehkan kita tidak boleh patah semangat kita harus bisa menjadi lebih baik dan sebagaimanapun kita harus membawa kemanfaatan untuk orang lain” Jelas nenek.
          Aku mengangguk paham dan nenek meninggalkanku untuk memasak kue kesukaaku dulu aku mengangguk lagi dan aku sangat berterimakasih dengan nenek yang telah membuatku menjali lebih semangat lagi.Aku mengambil kertas puisiku lagi dan menyatukanya lagi dari sobekan sobekan kertas yang telah kubuat. Berjam jam aku berlatih membaca puisi aku menuliskan judul di kertas putih bersih yang akan ku muat dengan kata karanganku sendiri.
“Menggapai Mentari”
          Paginya aku siap berangkat sekolah, nenek berpesan kepadaku untuk mengabaikan bullyan orang lain dan tetap selalu bersemangat.Aku menjalani pelajaran dengan baik dan saat itu Calsyia merasa aneh dariku, aku tetap mengabaikan apa kata bullynya kepadaku, dan disaat yang aku tunggu datang juga yaitu pengunguman siapa saja yang lolos dari seleksi itu untuk mengikuti lomba puisi dan lumayan hadiahnya.
“Saya akan membacakan siapa saja yang terpilih untuk mewakili sekolah ini, yang utama adalah Celsyiaa!” seru kakak osis dengan menunjuk Celsyia.
Semua bersorak dan senang, Celsyia bersenyum sinis dan sangat sombong saat itu, aku tetap akan berdiri melihat siapa saja yang akan mengikuti seleksi.Sudah ku tunggu tetapi namaku belum juga dipanggil apa aku tidak lolos mengikuti seleksi. Aku pun pergi meninggalkan tempat pengunguman.
“Eh Tunggu! Sepertinya saya salah membacakanya” Kata kakak osis yang mendebarkanku.
“Yang ikut ini bukan Learnia tapi Laura!” Seru kakak osis.
Aku langsung berbalik badan dan diam ditempat, sampai aku mulai tersenyum lebar dan berlari menuju ke kakak osis yang memanggilku.
“Yah ini dia perwakilan dari sekolah kita ada tiga anak yang akan diikuti lomba puisi di luar kota yang jauh sana!” Seru kakak osis yang membuatku bahagianya minta ampun.
Akhirnya aku bisa mengikuti lomba itu, aku sangat senang sekali, aku sekarang tidak akan gugup lagi untuk tampil yang sebenarnya.Ketika aku dan teman ku ya salah satunya Celsyia akan di ikutkan lomba puisi, besok adalah hari terakhir aku berlatih dan besoknya lagi lombanya akan di segelarkan.
“Aku pulangg…” Seruku dengan membawa kabar gembira
“ Kenapa cepat cepat sekali?” Tanya nenek yang sedang bertelepon dengan seseorang.
          Aku mengucapkan salam berberapa kali tapi Nenek tidak mendengarnya, aku menyimak komunikasinya secara diam diam.
“Aku sudah berberapa kali menyampaikan kepadamu bahwa si Laura juga butuh teman baru!” Kata si penelpon itu.
“Tapi Laura sudah ku ajarkan berteman di daerah sekolahnya dulu, jadi kasih dia waktu” Kata Nenek dengan wajah murung.
          Nenek melihatku dan langsung menutup teleponya dan mengatakan sesuatu kepadaku.
“Laura besok minggu kau ada waktukan?” Tanya nenek memastikan.
“Tapi nek aku ada kabar gembira..” Kataku murung.
“Yah tapi besok kita pergi ke luar kota!” Kata nenek dengan senyumnya yang lebar, namun tidak denganku.
“Nek.. besok aku ada lomba.” Kataku dengan wajah ragu.
          Aku dan nenek saling bertatapan, entah kenapa aku merasa bingung, sedih, dan bahagia, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang kecuali berlatih membaca puisi.
          Tanpa satu kata pun aku disuruh makan siang dahulu oleh nenek. Aku menuju dapur sambil berlatih puisi. Nenek tidak mengajakku berbicara kecuali saat dia menerima pesan baru lewat telephonya.
“Selesai makan, jaga rutinitasmu, besok nenek akan pergi ketempat lombamu, di gedung sekolahmu kan? Pasti nenek dan keluargamu akan hadir..” Kata nenek aku pun mengguk paham dan member senyum lebar.
          Berjam jam aku berlatih sendiri di dalam kamar dan memikirkan hal aneh dari nenek. Kenapa dan ada apa dengan nenek. Pagi nya adalah pagi yang ku tunggu, aku bangun pagi pagi dan mencium aroma masakan neneku, itu menggodaku untuk turun ke dapur tapi anehnya kenapa nenek tidak ada di dapur, aku sudah mencarinya di mana mana, tapi yang kutemukan adalah sebuah kertas yang berisi tulisan nenek, sama sepertinya apa hal yang nenek beritahu.
          “Aku berangkat..” Kataku murung, padahal di rumah sepi, sepertinya nenek dan keluargaku tidak akan menghadiri acara lomba puisiku.
          Aku sudah berada di gedung sekolah untuk memulai lombanya, aku melihat Calsyia dan temanku Verdia sedang berlatih bersama, aku dengan beraninya menghampiri mereka dan duduk agak berjauhan, Celsyia tersenyum sinis untuk menggambarkan aku sangat tak pantas.
“Sudah sana pergilah!” Seru Celsyia dengan sikap kasar.
Lomba pun di mulai aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri di saat giliranku aku harus tetap percaya diri, dan disitulah pembuktianku, dengan intonasi yang tinggi ku ucapkan
“Menggapai mentari”
          Di endingnya semua menyoraiku dan kulihat tidak ada keluargaku disanaAku turun meninggalkan panggung dan aku menuju ke lobby dari gedung sekolah. Aku kecewa kenapa keluargaku tidak datang. Pengunguman kejuaraan pun di selenggarakan dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan, beribu ribu kata aku berterimakasih kepada diriku sendiri, namun bahagiaku masih terhalang atas ketidak hadiran keluargaku.
          Tanpa ku ambil hadiahnya.Aku langsung pulang kerumah dengan rasa yang hambar. Dan Betapa terkejutnya aku ketika ku memasuki rumah keluargaku menyoraiku dan memberiknku tepukan tangan yang meriah.
“Yeaaaaay!!” Seru keluargaku.
“Kenapa kalian tidak hadir di perlombaanku” Tanyaku `dengan sedih dan bahagia merasa bersatu.
“Kami ingin mensrupriseimu sayang, kami juga tau kamu akan juara, kami tidak akan pernah melupakanmu sayang” Kata ibuku.
Aku berpelukan dengan semua keluargaku dan aku merasa tenang sekali.

No comments: