Tuesday, October 29, 2019

BONSAI LEYANGAN


PAKU BUMI
BONSAI LEYANGAN

DENGAN KESEDERHANAAN BAHAN, KITA CIPTAKAN
SENI KEINDAHAN SERTA KREATIFITAS ADALAH
MENUNJANG SEBAGAI PRODUKTIFITAS


KEORGANISASIAN
1.KEPENGURUSAN
- PELINDUNG   = Bapak.ARI SUSIANTO (Bapak Lurah)
                      = Bapak.ZAINAL ARIFIN (Bapak Kadus)
-TRAINER        = Mas.HENGKY  (Alumni GANESA BONSAI SCHOOL.1 )
KETUA 1.         = SHOLIKIN
KETUA2.          = Bapak.MUHROZI (Alumni GANESA BONSAI SCHOOL.1 )
SEKRETARIS    = ROMDHONI
BENDAHARA    = ZUAN
HUMAS            = 1.RHODIN
                         2.SHOLIKUN
ANGGOTA        =
     
TUKIMAN
DEVRI
JENI
GIYONO
ARIS
DENI
USMAN
ROHYANTO
TRIYONO
NANA
RINANTO
YOKO
NGATMAN
KUSYANTO
SLAMET
NININ
DODOK
ISNO
ARIP
BUDI
FIRMAN
ANDI
BEKTI
CUMPEN



2.MANAGEMENT
BUKU BENDAHARA TERLAMPIR






3.PROGRAM KERJA
   Paku Bumi Bonsai leyangan mempunyai program yaitu menjadikan tanaman atau pohon liar yang tidak mempunyai nilai jual menjadi tumbuhan yang bernilai.
Dengan kesederhanaan bahan kami ciptakan seni keindahan melalui kreatifitas dan juga imajinasi setiap anggota


4.REALISASI KEGIATAN
   Sebagai bukti realisasi komunitas ini mengikuti kontes dan bursa stand dalam acara EDUFEST Jateng yang di selenggarakan  di ungaran ( wujil) pada tanggal 27 - 28 oktober 2018


B.PENDIDIKAN
   Komunitas Paku Bumi Bonsai Leyangan mempunyai trainer yang bisa di jadikan acuan yaitu mas hengky dan bapak muhrozi mereka adalah alumni dari ganesha bonsai school.1
Di dalam kegiatan komunitas ini kedua tokoh di atas selalu memberikan pelajaran atau arahan- arahan dalam setiap kali pertemuan anjangsana.
Anggota paku bumi bonsai leyangan bisa menyaksikan langsung proses demo bonsai yang di lakukan oleh kedua trainer tersebut.
Tidak hanya proses demo bonsai saja yang di terangkan tetapi kami juga di ajarkan mulai dari pemilihan bahan yang bagus untuk di jadikan bonsai.
Anggota juga di ajarkan bagaimana car tanam ,pemilihan media,dan pemilihan pot yang layak sebagai sarana penunjang untuk menciptkan bonsai yang baik
Yang tidak kalah pentingnya bahwa anggota paku bumi leyangan selalu di anjurkan untuk dapat membudidayakan tanaman-tanaman yang bisa di jadikan bahan bonsai.
Karena dengan adanya budi daya setiap tanaman yang di jadikan bonsai akan selalu ada (tidak punah) dan tidak merusak lingkungan ataupun ekosistem di alam



C.ASPEK KEWIRAUSAHAAN

Dalam komunitas ini kami membuka tiga bidang kewirausahaan yaitu;

1.jasa trainer
    -Mas hengky (alumni ganesha bonsai school.1)
    -Bapak muh rozy (alumni ganesha bonsai school1.)
2.jasa pembuatan pot tanam bonsai dengan berbagai variasi motif dan ukuran sesuai
   Permintaan
3.jasa pembuatan pilar bonsai dengan berbagai variasi ukuran


  Kami siap melayani pesanan di dalam maupun luar kota ( pulau) dengan jaminan mutu/kelayakan serta harga yang terjangkau

Mengga Mentari


Mengga Mentari
Di siang yang terik, aku menghela napas pelan dan mengusap keringat dingin yang memenuhi seluruh tubuhku. Aku memegang tanganku sendiri dengan erat,aku sedang mengikuti seleksi untuk mewakili sebuah lomba puisi di sekolahku.
Aku mengantri dan mendapat posisi terakhir, aku memegang kertas yang bermuat kata indah untuk memotivasi, yang ku karang sendiri. Semalam aku hamper tidak bisa tidur hanya karena mengingat hari seleksi. Entah kenapa aku sangat menyukai dengan satu kalimat lima kata itu, sejak dulu aku juga gemar menulis. Mungkin sekarang diriku butuh bukti dari hobiku.
Aku sudah bersifat pesimis ketika temanku yang sudah menjadi kebanggaan guru datang dengan sikap yang baik dan percaya diri, di kenal seluruh anggota sekolah, dan tentunya sangat di sukai oleh banyak orang, bagaimana aku tak merasa kalah jika dia sudah mendapatkan nilai plus dalam setiap harinya.
“Selanjutnya!” Seru kakak Osis yang sedang mengecek daftar seleksi lomba itu.
          Aku maju dengan sikap yang sangat gugup, keringat dinginku muncul sekali lagi.  Aku harus bias membuktikan apa yang aku usahakan tadi malam. Aku dengan lantangnya mengucapkan judul puisi itu.
“Menggapai Mentari…”
          Sudah aku sudah tak tahan lagi, selesai seleksi aku langsung berlari kecil menuju ke toilet dan membasuh muka. Kututu pintu toilet cukup keras karena ada sesuatu yang membuatku merasa kecewa.
“Kenapa Laura ini sangat pemalu..” Kataku sendiri dengan mengusap wajahku yang di basahi keringat.
          Aku menegok ke kertas puisi itu, seharusnya tadi aku bisa mengendalikan diri dengan benar, sikap gugupku membuat aku menjadi ragu untuk menjadi juara.
Aku menuju ke kelasku untuk mengikuti pelajaran, aku memasang wajah murungku karena aku belum puas dengan hasilku sendiri.
“Hai!.. gimana seleksinya? Mantap? Hah!” Seru Celsyia lalu mengambil kertas puisiku dengan kasar.
“Hei jangan kau ambil kertas puisiku!” Seruku dengan mencoba mengambil kertas puisiku yang diangkat tinggi kesamping dan kebawah agar aku tak bisa mengambilnya.
“Haha! Laura laura… yang jelas kamu pasti tak bisa memenangkan seleksi lomba puisi itu!, hah lihat, menggapai mentari!?” Ejek Celsyia dengan teman temanya.
          Syukurlah ada guru yang dating menghamipiri kami. Tapi sialnya Celsyia membuang kertas puisi itu ke tanah yang becek.
“Celsyia!” Teriaku padanya lalu aku di tinggal begitu saja. Aku langsung mengambil kertas puisiku yang jatuh di tanah yang becek.
          Itulah sisi buruk Celsyia. Pintarnya di gunakan untuk memamerkan diri. Aku hampir saja menyesal karena kelakuanya yang mematahkan semangatku.
          Setelah pelajaran sekolah sudah selesai aku langsung menuju ke rumah dengan hati yang gelisah dan hambar, mungkin aku tak bisa lolos mengikuti seleksi itu. Aku sangat memalukan sekali.
“Aku pulang..” Kataku dengan malas.
“Eh Laura, baru pulang?” Kata Neneku yang sedang membaca Koran di ruang tamu.
“Wah Nenek! Aku rinduu..” Seruku karena terkejut atas kedatangan Neneku. Sudah berberapa bulan aku tidak datang kerumah nenek karena sibuk adanya pekerjaan.
          Kami saling berpelukan dan aku melihat sisi rumah tidak ada orang tuaku maupun kakaku yang biasanya memberikanku buku cerita.
“Kenapa bingung begitu?, lihat, orang tuamu dan kakakmu sedang perjalanan pergi ke luar kota untuk mengunjungi rumah baru kakek Vlad, orang tuamu tidak ingin merepotimu karena kamu sedang ingin sendiri. Tapi orang tuamu menyuruh nenek untuk menemanimu selama tiga hari.” Jelas nenek panjang lebar.
          Aku mengangguk paham dan mengisyaratkan aku ingin pergi ke kamar. Aku merasa senang bahwa keluargaku masih mengkhawatirkanku, lagi pula aku juga tidak menyukai liburan.
“Huuuh.. kacau sekali hari ini, semoga saja aku bisa lolos dari seleksi itu, dasar Celsyia tidak tau diri, apa aku bisa patah semangat hanya karena dia membullyku terus terusan? Aku sangat kesal!” Seruku di dalam kamar dan mengganti pakaianku.
          Aku melirik kertas puisiku dan mengambilnya, tentu saja itu sudah tak berarti bagiku, aku meremas dan menyobek kertas puisi itu, sungguh aku sangat kecewa.
“Ada apa Laura?” Tanya nenek lalu duduk di sampingku.
“Tadi adalah siang yang paling berat untuku. Aku mengikuti seleksi puisi aku memang gugup tapi temanku Celsyia selalu membullyku itu sangat membuatku terpukul sekali Nek..” Jelasku kepada nenek sambil memeluknya dan sialnya aku meneteskan air mata.
“Sudahlah Laura, itu hanya gangguan kecil, itu salah satu penyemangatmu untuk selalu menjadi yang lebih baik lagi, dengar.. nenek punya cerita” Seru nenek sambil mengusap air mataku.
Aku mengangguk dan tersenyum manis untuk mendengarkan cerita dari Neneku.
“Dulu, ada seekor kunang kunang yang ingin melawan singa, itu sangat mustahil kan tapi di suatu hari, singa selalu meremehkan kunang kunang, kunang kunang tetap sabar dan selalu berperilaku baik kepada singa, tapi makin lama kunang kunang jadi sedih dan menangis, sorenya kunang kunang duduk diatas batu yang mengarah ke mentari yang akan terbenam. Kunang kunang menikmati sunrise saat itu dan kunang kunang ingin sekali menggapainya. Ketika hari menjadi gelap, warna punggung kunang kunang menyala dengan terang, saat itu kunang kunang menjadi percaya diri, dan membuatnya ingin melawan sang raja hutan, ketika malam sunyi menghantui singa, singa sangat ketakutan, dan datanglah kunang kunang, sealsinya kunang kunang ingin menggigit tubuh sang singa, tapi keinginan itu hilang ketika melihat si singa ketakutan. Akhirnya si kunang kunang menuju ke wajah singa dan meneranginya, singa terkejut atas kelakuanya si kunang kunang, dan akhirnya si singa mengetahui rasa pertemanan si kunang kunang, dan terakhir nya si kunang kunang dan singa berteman untuk seterusnya….” Cerita nenek yang membuatku mengantuk.
“Waah.. nenek bagus sekali ceritanya, itu sangat memotivasiku!”Seruku dengan senyuman yang lebar.
“Intinya ketika kita diremehkan kita tidak boleh patah semangat kita harus bisa menjadi lebih baik dan sebagaimanapun kita harus membawa kemanfaatan untuk orang lain” Jelas nenek.
          Aku mengangguk paham dan nenek meninggalkanku untuk memasak kue kesukaaku dulu aku mengangguk lagi dan aku sangat berterimakasih dengan nenek yang telah membuatku menjali lebih semangat lagi.Aku mengambil kertas puisiku lagi dan menyatukanya lagi dari sobekan sobekan kertas yang telah kubuat. Berjam jam aku berlatih membaca puisi aku menuliskan judul di kertas putih bersih yang akan ku muat dengan kata karanganku sendiri.
“Menggapai Mentari”
          Paginya aku siap berangkat sekolah, nenek berpesan kepadaku untuk mengabaikan bullyan orang lain dan tetap selalu bersemangat.Aku menjalani pelajaran dengan baik dan saat itu Calsyia merasa aneh dariku, aku tetap mengabaikan apa kata bullynya kepadaku, dan disaat yang aku tunggu datang juga yaitu pengunguman siapa saja yang lolos dari seleksi itu untuk mengikuti lomba puisi dan lumayan hadiahnya.
“Saya akan membacakan siapa saja yang terpilih untuk mewakili sekolah ini, yang utama adalah Celsyiaa!” seru kakak osis dengan menunjuk Celsyia.
Semua bersorak dan senang, Celsyia bersenyum sinis dan sangat sombong saat itu, aku tetap akan berdiri melihat siapa saja yang akan mengikuti seleksi.Sudah ku tunggu tetapi namaku belum juga dipanggil apa aku tidak lolos mengikuti seleksi. Aku pun pergi meninggalkan tempat pengunguman.
“Eh Tunggu! Sepertinya saya salah membacakanya” Kata kakak osis yang mendebarkanku.
“Yang ikut ini bukan Learnia tapi Laura!” Seru kakak osis.
Aku langsung berbalik badan dan diam ditempat, sampai aku mulai tersenyum lebar dan berlari menuju ke kakak osis yang memanggilku.
“Yah ini dia perwakilan dari sekolah kita ada tiga anak yang akan diikuti lomba puisi di luar kota yang jauh sana!” Seru kakak osis yang membuatku bahagianya minta ampun.
Akhirnya aku bisa mengikuti lomba itu, aku sangat senang sekali, aku sekarang tidak akan gugup lagi untuk tampil yang sebenarnya.Ketika aku dan teman ku ya salah satunya Celsyia akan di ikutkan lomba puisi, besok adalah hari terakhir aku berlatih dan besoknya lagi lombanya akan di segelarkan.
“Aku pulangg…” Seruku dengan membawa kabar gembira
“ Kenapa cepat cepat sekali?” Tanya nenek yang sedang bertelepon dengan seseorang.
          Aku mengucapkan salam berberapa kali tapi Nenek tidak mendengarnya, aku menyimak komunikasinya secara diam diam.
“Aku sudah berberapa kali menyampaikan kepadamu bahwa si Laura juga butuh teman baru!” Kata si penelpon itu.
“Tapi Laura sudah ku ajarkan berteman di daerah sekolahnya dulu, jadi kasih dia waktu” Kata Nenek dengan wajah murung.
          Nenek melihatku dan langsung menutup teleponya dan mengatakan sesuatu kepadaku.
“Laura besok minggu kau ada waktukan?” Tanya nenek memastikan.
“Tapi nek aku ada kabar gembira..” Kataku murung.
“Yah tapi besok kita pergi ke luar kota!” Kata nenek dengan senyumnya yang lebar, namun tidak denganku.
“Nek.. besok aku ada lomba.” Kataku dengan wajah ragu.
          Aku dan nenek saling bertatapan, entah kenapa aku merasa bingung, sedih, dan bahagia, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang kecuali berlatih membaca puisi.
          Tanpa satu kata pun aku disuruh makan siang dahulu oleh nenek. Aku menuju dapur sambil berlatih puisi. Nenek tidak mengajakku berbicara kecuali saat dia menerima pesan baru lewat telephonya.
“Selesai makan, jaga rutinitasmu, besok nenek akan pergi ketempat lombamu, di gedung sekolahmu kan? Pasti nenek dan keluargamu akan hadir..” Kata nenek aku pun mengguk paham dan member senyum lebar.
          Berjam jam aku berlatih sendiri di dalam kamar dan memikirkan hal aneh dari nenek. Kenapa dan ada apa dengan nenek. Pagi nya adalah pagi yang ku tunggu, aku bangun pagi pagi dan mencium aroma masakan neneku, itu menggodaku untuk turun ke dapur tapi anehnya kenapa nenek tidak ada di dapur, aku sudah mencarinya di mana mana, tapi yang kutemukan adalah sebuah kertas yang berisi tulisan nenek, sama sepertinya apa hal yang nenek beritahu.
          “Aku berangkat..” Kataku murung, padahal di rumah sepi, sepertinya nenek dan keluargaku tidak akan menghadiri acara lomba puisiku.
          Aku sudah berada di gedung sekolah untuk memulai lombanya, aku melihat Calsyia dan temanku Verdia sedang berlatih bersama, aku dengan beraninya menghampiri mereka dan duduk agak berjauhan, Celsyia tersenyum sinis untuk menggambarkan aku sangat tak pantas.
“Sudah sana pergilah!” Seru Celsyia dengan sikap kasar.
Lomba pun di mulai aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri di saat giliranku aku harus tetap percaya diri, dan disitulah pembuktianku, dengan intonasi yang tinggi ku ucapkan
“Menggapai mentari”
          Di endingnya semua menyoraiku dan kulihat tidak ada keluargaku disanaAku turun meninggalkan panggung dan aku menuju ke lobby dari gedung sekolah. Aku kecewa kenapa keluargaku tidak datang. Pengunguman kejuaraan pun di selenggarakan dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan, beribu ribu kata aku berterimakasih kepada diriku sendiri, namun bahagiaku masih terhalang atas ketidak hadiran keluargaku.
          Tanpa ku ambil hadiahnya.Aku langsung pulang kerumah dengan rasa yang hambar. Dan Betapa terkejutnya aku ketika ku memasuki rumah keluargaku menyoraiku dan memberiknku tepukan tangan yang meriah.
“Yeaaaaay!!” Seru keluargaku.
“Kenapa kalian tidak hadir di perlombaanku” Tanyaku `dengan sedih dan bahagia merasa bersatu.
“Kami ingin mensrupriseimu sayang, kami juga tau kamu akan juara, kami tidak akan pernah melupakanmu sayang” Kata ibuku.
Aku berpelukan dengan semua keluargaku dan aku merasa tenang sekali.

Choose To Be Hurt


Aku mengangguk paham ketika guruku memberi penjelasan tentang pelajaran yang membosankan itu. Aku mencatat hal hal penting dari pembelajaran tersebut di buku catatanku yang berwarna hitam yang di penuhi oleh glitter. Aku sempat melihat ke luar jendela saat aku melihat tiga anak laki laki dari adik kelasku yang akan mengikuti lomba, yang kulihat hanya seorang lelaki kecil yang memukul glofnya.
“Apa yang kau lihat?”Tanya teman sebelah bangku ku  yang sedikit akrab denganku sejak masuk sekolah ini.
“Entahlah, apa yang dirasakan ketikaku bosan”Kataku singkat seolah tak peduli karena bad mood, dan langsung meninggalkan teman akrabku yang namanya Briane.
                Aku meninggalkan kelas saat guruku mempersilahkan semua untuk beristirahat. Aku pergi dan langsung duduk di bangku kantin yang kosong yang di depanya ada sebuah meja untuk tempat makan. Aku menduduki bangku dan ada Briane yang baru saja datang, mungkin dia mengikutiku.
 Ia duduk di bangku kosong sebelahku, aku hanya menatapnya sekilas.
“Kamu kurang sehat ya?” Tanyanya sambil memperbaiki jam tanganya.
“Nggak, aku hanya kurang semangat aja, reflek menerima pembelajaran membosankan itu, aku sangat malas mempelajarinya, sampai  aku gak mau nulis lagi” Jelasku  sambil mengusap lengan tanganku.
                Dia hanya mendengarkanku tanpa ia balas lagi. Aku memang tidak suka basa basi, apalagi dengan si  Brians itu malah membuatku canggung. Padahal dia mood boosterku.
“Aku mau mengambil ollate di mesin minuman kaleng, kamu mau aku ambilin apa?” Tawarku kepada Brian yang sedang menopang kepalanya ke punggung tangan.
“Sprite, nanti kamu yang bayar dulu ya, nanti aku ganti, males ambil uang di kantong, lagi PW” Jawabnya yang terbiasa, tapi untungnya dia selalu memberikanku lebih daripada harga yang aslinya.
Aku menuju mesin minuman kaleng itu.
 Sesampainya aku mengacungkan jariku dan menunjuk susu Ollate dan sprite.
“Hah, tumben ollate coklat Cuma satu, lebih sedikit daripada sprite, wajar ollate itu sangat enak”Ujarku sambil memasukan uang koin ke mesin itu dan menunggu proses mesin itu.
                Kaleng ollate dan sprite sudah jatuh di kantong mesin itu dan aku hanya mengambilnya saja. Sialnya ada seorang wanita yang tidak tau diri mengambil ollateku dan langsung pergi.
“Hey orang gak tau diri kembalilah!” Kataku sambil memegang kerah belakang seorang wanita itu, yang pastinya bukan temanku dan dia pasti beda kelas XI.
“Mau apa kau!?” Tanyanya seperti tidak bersalah.
“Kamu sudah di sekolahin 11 tahun gak tau pelajaran harga diri ya?” Tanyaku sambil mengantong tanganku ke saku dengan wajah kesal.
“Ya memang aku sekolah sudah 11 tahun lamanya, tapi aku bisa menyimpulkan dengan kejadian tadi, siapa cepat dia dapat” Jawab perempuan itu sambil memamerkan lidahnya.
“Tapi yang membeli aku noona, lagi pula kau hanya menyimpulkan hal bodoh yang sangat memalukan” Kataku dengan sangat kesal.
“Apa salahnya berbagi? Ollate ini juga akan tersedia nanti” Katanya dengan seenaknya.
“Kembalikan nona, bukanya akan lebih baik jika berbagi kembali dengan ollate yang kau pegang sekarang kepadaku?” Kataku dengan menaiki alis kananku.
“Semoga harimu buruk nanti!” Kataku lagi pada perempuan bodoh itu dan langsung meninggalkanya.
                Perempuan itu berjalan mendahuluiku. Aku kembali lagi ke tempat mesin minuman itu. Sebaiknya aku mengambil minuman yang ada daripada tidak minum sama sekali.
                Aku mengambil Sprite lagi sebagai gantinya, aku mengambil uang koinku lagi lalu membayarnya. Aku terlihat pasrah dengan itu tadi, aku harus mengalah tapi bukan berarti kalah.
                Aku kembali ke bangku kantin dengan wajah baik baik saja, padahal aku sangat kesal dengan kejadian yang tadi.               
“Hai Kelly, kok lama banget sih, mana Ollatemu?” Tanya Brians sambil mengusap rambutnya.
“Mesinya lama, tadi Ollatenya habis kok.. ini sprite mu, aku ambil sprite sebagai gantinya” Jawabku dengan bohong, aku tau jika aku mengatakan sebenarnya, Briane akan mengejar perempuan sialan itu, aku tidak mau merepotkanya.
                Briane mengangguk mengerti sambil membuka spritenya yang dingin lalu tersenyum membentuk satu garis.
“Tumben disini aja, biasanya ngumpul bareng geng gengmu yang imut imut, gak terlalu bahaya, lemah” Kataku sambil membuka kaleng sprite.
“Ey! Lemah gimana, biar aja imut imut tapi banyak yang suka, ya kecuali kamu, kenapa nggak tertarik padaku?” Katanya sambil tertawa.
“Seleraku tinggi, tidak seperti yang  kau pikirkan” Kataku sambil memperbaiki posisi duduk.
“Yeah ku tau, tapi kau memang baik padaku” Katanya.
“ Walau suka kesel kalo aku ngejail, kurang kerjaan doang. Oiya aku nggak ngumpul gara gara temanku yang satu lagi pergi ke luar negri, makanya dia izin gak berangkat sekolah” Jawabnya panjang lebar.
“Makanya gak kelihatan dari tadi si Taerin” Kataku sambil meminum spriteku yang sebentar lagi akan kubuang.
“Oh ya ini uangnya, aku mau ke kelas dulu, makasih waktunya” Kata Brian sambil mengeluarkan uang di kantong sakunya.
“Nggak usah di kembaliin, dikit doang kok, just free” Kataku sambil  memegang tangan Brian yang masih ada di kantong saku celananya, ya memang tadi merepotkan harus membayar tiga kali tapi aku lebih pantient orangnya.
                Brian tersenyum manis dan langsung  pergi ke kelas dan aku saja yang duduk di bangku makan siang, sendirian. Aku berdiri dan melihat jam tanganku yang sudah melihatkan pukul 14.57 hampir jam tiga siang, aku masih punya banyak kegiatan lagi. Sekolah ini memang seperti kantor, karena di sesuai jadwal hari Senin pulang sekitar jam 8 malam, sungguh melelahkan.
                Malam pun tiba, aku berada di kelas sekarang. Guruku yang tadi asik membaca Koran, kini ia pergi meninggalkan kelas untuk sesuatu.
Aku  menoleh kekanan ketika ada sahabatku Fanny memanggil namaku dan mengisyaratkan ku untuk pergi ke bangkunya.
“Kenapa?”Tanya ku sambil berjongkok.
“Yey!, tau gak kalo tadi si Taerin ngechat aku apa?” Katanya dengan bahagia.
“Ngechat apa?”Tanyaku lagi sambil melihat kanan dan kiri.
“Dia tadi nembak aku buat jadi pacarnya, ooh so sweet, akhirnya aku bisa jadian, setelah berberapa lama berteman!”Jelasnya sambil mencubit pipiku.
“Waah.. kalian bisa terkenal dong di sekolah, punya pasangan yang terkenal terus tampan, baik lagi” kataku dengan tersenyum sedikit.
“Tumben ada orang yang nyataiin cinta lewat sosmed”Kataku lagi sambil menggeleng kepala.
“Entah lah. Mungkin Taerin tidak sabaran, karena masih ada di Las Vegas, ya kami jarang ketemu.. akhirnya aku punya pasangan yang populler di sekolah ini!” Katanya panjang lebar.
“Selamat ya!” Kataku singkat lalu meninggalkan Fanny.
“Eeeh!.. tunggu dulu!” Teriak Fanny sambil menarik tanganku untuk kembali ke bangkunya.
Semua murid tidak mendengar teriakan Fanny tadi karena kelasnya agak ramai, tidak ada guru itu kesempatan semua temanku, tapi aku tidak, hanya bosan lalu menompang kepalaku ke punggung tangan.
“Kenapa lagi?” Tanyaku dengan lelah.
“Hehehe.. kalo aku punya pacar Taerin kamu juga harus punya dong!” Kata Fanny dengan menaikan alisnya dua kali.
                Aku terkejut dengan kata Fanny, kenapa aku harus punya?
“Kau kan sahabtku Kelly.. si Taerin juga sahabatnya Brian sama si Steven, kamu pilih salah satu dari dua sahabatnya Taerin. Mereka bertigga juga sangat populler. Dan kau juga sangat akrab dengan Brian” Tawar Fanny sambil melirik Brian dan Steven.
“Apa kau gila Fan?, mana mungkin aku menyukai mereka berdua. Paling mereka juga gak punya waktu untuku karena banyak urusan” Jawabku terkejut.
“Tapi kulihat lihat Brian menyukaimu” Kata Fanny, aku tak peduli.
Aku langsung  pergi meninggalkan Fanny ke luar kelas tepat bell istirahat di bunyikan aku pergi ke luar sekolah, lalu aku memandang langit yang sudah petang, dan tiang lampu semua di nyalakan.
Aku berputar mengelilingi gedung sekolahku yang hampir setinggi gedung di kota, aku tak peduli aku hanya menimba ilmu di sekolahan ini dengan teman yang karakternya sangat berbeda.
Aku duduk di bangku kosong di taman, aku bisa melihat semua temanku dari luar jendela yang semua sedang ber istirahat di dalam kelas dan Brian yang sedang menguap mengantuk dasar pengantuk dan pemalas tapi dia juga giat melakukan perintah orang lain tarmasuk aku, yang Fanny lagi asik dengan percintaanya.
Steven, Brian, dan Taerin banyak semua murid yang menyukainya karena ketampananya dan kepopularanya, kecuali aku, mereka bertiga mau menjadi sahabatku dan Fanny. Aku hanya bersikap baik pada mereka dan aku juga tidak merasa suka padanya. Cukup keren saja, bisa bersahabat dengan teman popular di sekolah.
Aku berdiri dan memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri lalu merenggakan tanganku, sungguh lelah siang tadi.
                Tidak ada semenit, aku mendengar suara teriakan perempuan yang mengarahkan ke tempat parkir bawah gedung sekolah ini.
                Aku berlari dengan mengikuti sumber suara teriakan itu. Aku sudah di bawah gedung sekolah, yah di tempat parkir, aku memutar kepalaku dan tubuhku sambil melihat lihat, adakah orang disini.
                Aku bingung di mana letak perempuan itu, dan akhirnya perempuan itu teriak lagi seperti meminta bantuan.
“Tolong aku!!..”
“Ku mohon jangan lakukan!”
“Tolong.. siapapun!!”
                Aku pun menemukan perempuan itu yang sedang di rampok kopernya yang berwarna hitam bercorak putih.
Aku pikir perempuan itu hantu, ternyata manusia yang bersekolah di sekolah ini, perampok itu menggunakan seragam sekolahan ini, tapi aku tidak tau siapa dia, aku mengeluarkan ponselku untuk memotretnya, untung aku tidak ketahuan.
“Pts” suara ponselku saat ku potret dan mengeluarkan flash, mereka menengok ke arahku, dan aku foto dua kali yang ini kelihatan semua wajahnya.
                Satu dari dua pria itu maju dan berkata kasar kepadaku. Aku tak mau melewatkan ini dengan berlari. Aku membuka gambar hasil dari foto tadi.
“Kau lihat ini? Jika kau masih saja mengganggu perempuan itu. Aku akan melapor kepada kepala sekolah, kalo kamu tidak pantas mendapat masa depan baik!” Ujarku sambil memegang kerah pria itu.
“Dasar cewek lemah!, bisanya Cuma ngelapor” Kata pria kurang ajar itu, ia memegang tanganku dan mendorang sampaiku terjatuh.
                Aku berdiri lalu memejamkan mata, aku mengangkat kakiku lalu menendangnya  dari atas lalu melemparnya ke bawah lantai dan menarik dasinya.
“Aku melapor bukan karena lemas bodoh, aku menaati peraturan, ingat! Seorang yang setelah melakukan perbuatan harus menerima resikonya. Kau harus tanggung jawab” Jelasku dengan nada kasar.
“Aku takkan memberi tahu ulahmu yang memalukan ini kepada kapsek jika kau mengembalikan tas itu!” Jelasku lagi sambil menarik tangan pria itu lagi dan membantunya berdiri.
“Memang kau pahlawan disini hah?!” Katanya sambil menyakar punggung tanganku dengan silet kecilnya, mungkin dia ingin melukaiku tapi meleset.
“Malu lah atas perbuatanmu bukan malu karena senjatamu meleset!, pergola atau kau akan keluar dari sekolah ini selamanya!” Kataku sambil memukul kepalanya, agar aku bias membuatnya pusing.
                Pria itu berdiri tegak lalu “Maafkan aku, aku takkan mengulanginya lagi” Katanya lalu pergi dengan anak buah satunya yang bergemetar karena ketahuan.
                Aku menghembuskan napas kasar lalu menghampiri perempuan itu yang dari tadi di jambak rambutnya.
“Ini kopermu, lain kali jangan sendirian di tempat sepi” Kataku sambil membantu mengangkat kopernya.
“Terimakasih banyak… aku sangat berutang kepadamu!” Kata perempuan itu yang tak asing lagi ku dengar.
“Tunggu.. kamu perempuan yang mengambil Ollateku kan?” Kataku sambil member  plester kecil yang hampir habis ke bahunya, yang aslinya kubuat untuk menutupi luka di punggung tanganku, tapi itu lebih penting ku berikan kepada perempuan itu.
“Iya maaf, memang benar tetang katamu tadi siang, ku harap kau memaafkanku” Katanya sambil memohon.
                Aku tersenyum “ Tak apa, memang isi koper ini apa?” Tanyaku heran.
“Isinya uang untuk membantu masalah gedung sekolah ini, koper ini aku masukan ke bagasi mobilku, lalu ku ambil tadi, dan entah kenapa pria gila itu mau mengambil kperku” Jelasnya sambil berdiri.
                Memang semua murid dari sekolah ini tajir tajir. Yang semua berangkat dengan mobilnya sendiri, tak heran dengan kepopuleranya sekolah ini.
“Biar aku yang membawakan koper ini, berat juga” Kataku sambil menarik koper itu.
“Mau kemana?” Tanyaku lagi.
“Ke ruang kepala sekolah” Jawabnya dengan lembut. Padahal tadi siang dia sangat kasar.
                Aku mengangguk lalu menarik koper itu dengan tangan kanan, dan yang kiri membantu wanita itu jalan.
“Namamu siapa?” Tanya wanita itu.
“Aku Kelly Cenhart, panggil aku Kelly” Kataku dengan bersenyum.
“Kelly ya, makasih ya Kelly. Namaku Casey Vyne panggil Casey ya” Katanya dengan senyum ramah.
                Aku hanya tersenyum menganggapinya.
               



Bersatu Kita Teguh Berempat Kita Party

Di siang yang terik ini membuat gue tergoda untuk membeli sebotol minum es yang sering di borong adik kelas seusai jam olahraga.

"Bang es tehnya satu, es batunya di pisahin, biar gak bikin sakit ngilu hehe" Kata gue sambil memberikan uang seribu untuk mas penjualnya.
 "Hei Mon.. beli es ya?" Tanya Bili seketika yang bikin aku kaget.
"Eh Bili! ngagetin aja lu, ya gue beli es lah masa beli kulkas" Jawab gue sambil nerima seplastik es teh sambil senyam senyum.
"Hih mana ada disini jualan kulkas, kalo ada mesti gue udah beliin buat ortu" Kata Bili bosenin itu.
"Halah ni kantin buat jual beli online apa? dah lah gue mau masuk kelas Bye!" Ujar gue singkat.

Hei gaess.. nama gue Monica di kelas gue banyak yang manggil gue Cetimer artinya cewek cantik gemer, cuma hobi sih ngegame itu tapi ya asik banget sih buat di mainin. Gue punya tiga temen yang kocak kocak jenius yaitu si Bili,Nay, dan si Iwan paling kece. Kami berempat bikin sekelompok geng lain pada iri karena keseruan sahabat kami, gimana lagi orang pada gokil semua dan humoris. Gue berada di SMA yang maju, jadi tenang aja kalo di ejek cuman bales "Ni sekolah gua~" mungkin semua orang pada takut.

"Nglamun teross!.." Seru Nay sebelah gua yang bikin interview gue gagal buat nanti ikut eskul english club di sekolahanku ini.
"Apa sih lu orang lagi latihan buat perkenalan nanti" Kataku dengan murung.
"Lu kan jago bahasa inggris Mon, tuh kan gampang banget, kata lu

Friday, October 18, 2019

beauty market night village

pasar malam yang indah kalau di lihat pada malam hari
tapi kalau di lihat di siang hari begitu menyeramkan






dan anehnya kalau di siang hari begitu meyeramkan lihatlah gambar di bawah ini

sungguh menyeramkan seklai bukan


cerita desa leyangan

     berawal dari kisah jaman dahulu kala nama desa leyangan sangat meragukan sekali
berawal dari kejadian bermacam macam
ada yang mengira berawal dari nenek moyang yang terbang melayang alayang maka desa itu beranama desa leyangan ataupun cerita itu hanya fiktif belaka atau mememang benar kejadianya?