Aku mengangguk paham ketika guruku memberi penjelasan
tentang pelajaran yang membosankan itu. Aku mencatat hal hal penting dari
pembelajaran tersebut di buku catatanku yang berwarna hitam yang di penuhi oleh
glitter. Aku sempat melihat ke luar jendela saat aku melihat tiga anak laki
laki dari adik kelasku yang akan mengikuti lomba, yang kulihat hanya seorang
lelaki kecil yang memukul glofnya.
“Apa yang kau lihat?”Tanya teman sebelah bangku ku yang sedikit akrab denganku sejak masuk
sekolah ini.
“Entahlah, apa yang dirasakan ketikaku bosan”Kataku singkat
seolah tak peduli karena bad mood, dan langsung meninggalkan teman akrabku yang
namanya Briane.
Aku
meninggalkan kelas saat guruku mempersilahkan semua untuk beristirahat. Aku
pergi dan langsung duduk di bangku kantin yang kosong yang di depanya ada
sebuah meja untuk tempat makan. Aku menduduki bangku dan ada Briane yang baru
saja datang, mungkin dia mengikutiku.
Ia duduk di bangku
kosong sebelahku, aku hanya menatapnya sekilas.
“Kamu kurang sehat ya?” Tanyanya sambil memperbaiki jam
tanganya.
“Nggak, aku hanya kurang semangat aja, reflek menerima
pembelajaran membosankan itu, aku sangat malas mempelajarinya, sampai aku gak mau nulis lagi” Jelasku sambil mengusap lengan tanganku.
Dia
hanya mendengarkanku tanpa ia balas lagi. Aku memang tidak suka basa basi,
apalagi dengan si Brians itu malah
membuatku canggung. Padahal dia mood boosterku.
“Aku mau mengambil ollate di mesin minuman kaleng, kamu mau
aku ambilin apa?” Tawarku kepada Brian yang sedang menopang kepalanya ke
punggung tangan.
“Sprite, nanti kamu yang bayar dulu ya, nanti aku ganti,
males ambil uang di kantong, lagi PW” Jawabnya yang terbiasa, tapi untungnya
dia selalu memberikanku lebih daripada harga yang aslinya.
Aku menuju mesin minuman kaleng itu.
Sesampainya aku
mengacungkan jariku dan menunjuk susu Ollate dan sprite.
“Hah, tumben ollate coklat Cuma satu, lebih sedikit daripada
sprite, wajar ollate itu sangat enak”Ujarku sambil memasukan uang koin ke mesin
itu dan menunggu proses mesin itu.
Kaleng
ollate dan sprite sudah jatuh di kantong mesin itu dan aku hanya mengambilnya
saja. Sialnya ada seorang wanita yang tidak tau diri mengambil ollateku dan
langsung pergi.
“Hey orang gak tau diri kembalilah!” Kataku sambil memegang
kerah belakang seorang wanita itu, yang pastinya bukan temanku dan dia pasti
beda kelas XI.
“Mau apa kau!?” Tanyanya seperti tidak bersalah.
“Kamu sudah di sekolahin 11 tahun gak tau pelajaran harga
diri ya?” Tanyaku sambil mengantong tanganku ke saku dengan wajah kesal.
“Ya memang aku sekolah sudah 11 tahun lamanya, tapi aku bisa
menyimpulkan dengan kejadian tadi, siapa cepat dia dapat” Jawab perempuan itu
sambil memamerkan lidahnya.
“Tapi yang membeli aku noona, lagi pula kau hanya menyimpulkan
hal bodoh yang sangat memalukan” Kataku dengan sangat kesal.
“Apa salahnya berbagi? Ollate ini juga akan tersedia nanti”
Katanya dengan seenaknya.
“Kembalikan nona, bukanya akan lebih baik jika berbagi
kembali dengan ollate yang kau pegang sekarang kepadaku?” Kataku dengan menaiki
alis kananku.
“Semoga harimu buruk nanti!” Kataku lagi pada perempuan
bodoh itu dan langsung meninggalkanya.
Perempuan
itu berjalan mendahuluiku. Aku kembali lagi ke tempat mesin minuman itu.
Sebaiknya aku mengambil minuman yang ada daripada tidak minum sama sekali.
Aku
mengambil Sprite lagi sebagai gantinya, aku mengambil uang koinku lagi lalu
membayarnya. Aku terlihat pasrah dengan itu tadi, aku harus mengalah tapi bukan
berarti kalah.
Aku
kembali ke bangku kantin dengan wajah baik baik saja, padahal aku sangat kesal
dengan kejadian yang tadi.
“Hai Kelly, kok lama banget sih, mana Ollatemu?” Tanya Brians
sambil mengusap rambutnya.
“Mesinya lama, tadi Ollatenya habis kok.. ini sprite mu, aku
ambil sprite sebagai gantinya” Jawabku dengan bohong, aku tau jika aku
mengatakan sebenarnya, Briane akan mengejar perempuan sialan itu, aku tidak mau
merepotkanya.
Briane
mengangguk mengerti sambil membuka spritenya yang dingin lalu tersenyum
membentuk satu garis.
“Tumben disini aja, biasanya ngumpul bareng geng gengmu yang
imut imut, gak terlalu bahaya, lemah” Kataku sambil membuka kaleng sprite.
“Ey! Lemah gimana, biar aja imut imut tapi banyak yang suka,
ya kecuali kamu, kenapa nggak tertarik padaku?” Katanya sambil tertawa.
“Seleraku tinggi, tidak seperti yang kau pikirkan” Kataku sambil memperbaiki posisi
duduk.
“Yeah ku tau, tapi kau memang baik padaku” Katanya.
“ Walau suka kesel kalo aku ngejail, kurang kerjaan doang. Oiya
aku nggak ngumpul gara gara temanku yang satu lagi pergi ke luar negri, makanya
dia izin gak berangkat sekolah” Jawabnya panjang lebar.
“Makanya gak kelihatan dari tadi si Taerin” Kataku sambil
meminum spriteku yang sebentar lagi akan kubuang.
“Oh ya ini uangnya, aku mau ke kelas dulu, makasih waktunya”
Kata Brian sambil mengeluarkan uang di kantong sakunya.
“Nggak usah di kembaliin, dikit doang kok, just free” Kataku
sambil memegang tangan Brian yang masih
ada di kantong saku celananya, ya memang tadi merepotkan harus membayar tiga
kali tapi aku lebih pantient orangnya.
Brian
tersenyum manis dan langsung pergi ke
kelas dan aku saja yang duduk di bangku makan siang, sendirian. Aku berdiri dan
melihat jam tanganku yang sudah melihatkan pukul 14.57 hampir jam tiga siang,
aku masih punya banyak kegiatan lagi. Sekolah ini memang seperti kantor, karena
di sesuai jadwal hari Senin pulang sekitar jam 8 malam, sungguh melelahkan.
Malam
pun tiba, aku berada di kelas sekarang. Guruku yang tadi asik membaca Koran,
kini ia pergi meninggalkan kelas untuk sesuatu.
Aku menoleh kekanan
ketika ada sahabatku Fanny memanggil namaku dan mengisyaratkan ku untuk pergi
ke bangkunya.
“Kenapa?”Tanya ku sambil berjongkok.
“Yey!, tau gak kalo tadi si Taerin ngechat aku apa?” Katanya
dengan bahagia.
“Ngechat apa?”Tanyaku lagi sambil melihat kanan dan kiri.
“Dia tadi nembak aku buat jadi pacarnya, ooh so sweet,
akhirnya aku bisa jadian, setelah berberapa lama berteman!”Jelasnya sambil
mencubit pipiku.
“Waah.. kalian bisa terkenal dong di sekolah, punya pasangan
yang terkenal terus tampan, baik lagi” kataku dengan tersenyum sedikit.
“Tumben ada orang yang nyataiin cinta lewat sosmed”Kataku lagi
sambil menggeleng kepala.
“Entah lah. Mungkin Taerin tidak sabaran, karena masih ada
di Las Vegas, ya kami jarang ketemu.. akhirnya aku punya pasangan yang populler
di sekolah ini!” Katanya panjang lebar.
“Selamat ya!” Kataku singkat lalu meninggalkan Fanny.
“Eeeh!.. tunggu dulu!” Teriak Fanny sambil menarik tanganku
untuk kembali ke bangkunya.
Semua murid tidak mendengar
teriakan Fanny tadi karena kelasnya agak ramai, tidak ada guru itu kesempatan
semua temanku, tapi aku tidak, hanya bosan lalu menompang kepalaku ke punggung
tangan.
“Kenapa lagi?” Tanyaku dengan lelah.
“Hehehe.. kalo aku punya pacar Taerin kamu juga harus punya
dong!” Kata Fanny dengan menaikan alisnya dua kali.
Aku
terkejut dengan kata Fanny, kenapa aku harus punya?
“Kau kan sahabtku Kelly.. si Taerin juga sahabatnya Brian
sama si Steven, kamu pilih salah satu dari dua sahabatnya Taerin. Mereka
bertigga juga sangat populler. Dan kau juga sangat akrab dengan Brian” Tawar
Fanny sambil melirik Brian dan Steven.
“Apa kau gila Fan?, mana mungkin aku menyukai mereka berdua.
Paling mereka juga gak punya waktu untuku karena banyak urusan” Jawabku
terkejut.
“Tapi kulihat lihat Brian menyukaimu” Kata Fanny, aku tak
peduli.
Aku langsung pergi meninggalkan Fanny ke luar kelas tepat
bell istirahat di bunyikan aku pergi ke luar sekolah, lalu aku memandang langit
yang sudah petang, dan tiang lampu semua di nyalakan.
Aku berputar mengelilingi gedung
sekolahku yang hampir setinggi gedung di kota, aku tak peduli aku hanya menimba
ilmu di sekolahan ini dengan teman yang karakternya sangat berbeda.
Aku duduk di bangku kosong di
taman, aku bisa melihat semua temanku dari luar jendela yang semua sedang ber
istirahat di dalam kelas dan Brian yang sedang menguap mengantuk dasar
pengantuk dan pemalas tapi dia juga giat melakukan perintah orang lain tarmasuk
aku, yang Fanny lagi asik dengan percintaanya.
Steven, Brian, dan Taerin banyak
semua murid yang menyukainya karena ketampananya dan kepopularanya, kecuali
aku, mereka bertiga mau menjadi sahabatku dan Fanny. Aku hanya bersikap baik
pada mereka dan aku juga tidak merasa suka padanya. Cukup keren saja, bisa bersahabat
dengan teman popular di sekolah.
Aku berdiri dan memutar tubuhku ke
kanan dan ke kiri lalu merenggakan tanganku, sungguh lelah siang tadi.
Tidak ada
semenit, aku mendengar suara teriakan perempuan yang mengarahkan ke tempat
parkir bawah gedung sekolah ini.
Aku
berlari dengan mengikuti sumber suara teriakan itu. Aku sudah di bawah gedung
sekolah, yah di tempat parkir, aku memutar kepalaku dan tubuhku sambil melihat
lihat, adakah orang disini.
Aku
bingung di mana letak perempuan itu, dan akhirnya perempuan itu teriak lagi
seperti meminta bantuan.
“Tolong aku!!..”
“Ku mohon jangan lakukan!”
“Tolong.. siapapun!!”
Aku pun
menemukan perempuan itu yang sedang di rampok kopernya yang berwarna hitam
bercorak putih.
Aku pikir perempuan itu hantu,
ternyata manusia yang bersekolah di sekolah ini, perampok itu menggunakan
seragam sekolahan ini, tapi aku tidak tau siapa dia, aku mengeluarkan ponselku
untuk memotretnya, untung aku tidak ketahuan.
“Pts” suara ponselku saat ku potret dan mengeluarkan flash,
mereka menengok ke arahku, dan aku foto dua kali yang ini kelihatan semua
wajahnya.
Satu
dari dua pria itu maju dan berkata kasar kepadaku. Aku tak mau melewatkan ini
dengan berlari. Aku membuka gambar hasil dari foto tadi.
“Kau lihat ini? Jika kau masih saja mengganggu perempuan
itu. Aku akan melapor kepada kepala sekolah, kalo kamu tidak pantas mendapat
masa depan baik!” Ujarku sambil memegang kerah pria itu.
“Dasar cewek lemah!, bisanya Cuma ngelapor” Kata pria kurang
ajar itu, ia memegang tanganku dan mendorang sampaiku terjatuh.
Aku
berdiri lalu memejamkan mata, aku mengangkat kakiku lalu menendangnya dari atas lalu melemparnya ke bawah lantai
dan menarik dasinya.
“Aku melapor bukan karena lemas bodoh, aku menaati
peraturan, ingat! Seorang yang setelah melakukan perbuatan harus menerima resikonya.
Kau harus tanggung jawab” Jelasku dengan nada kasar.
“Aku takkan memberi tahu ulahmu yang memalukan ini kepada
kapsek jika kau mengembalikan tas itu!” Jelasku lagi sambil menarik tangan pria
itu lagi dan membantunya berdiri.
“Memang kau pahlawan disini hah?!” Katanya sambil menyakar
punggung tanganku dengan silet kecilnya, mungkin dia ingin melukaiku tapi
meleset.
“Malu lah atas perbuatanmu bukan malu karena senjatamu
meleset!, pergola atau kau akan keluar dari sekolah ini selamanya!” Kataku
sambil memukul kepalanya, agar aku bias membuatnya pusing.
Pria
itu berdiri tegak lalu “Maafkan aku, aku takkan mengulanginya lagi” Katanya
lalu pergi dengan anak buah satunya yang bergemetar karena ketahuan.
Aku
menghembuskan napas kasar lalu menghampiri perempuan itu yang dari tadi di
jambak rambutnya.
“Ini kopermu, lain kali jangan sendirian di tempat sepi”
Kataku sambil membantu mengangkat kopernya.
“Terimakasih banyak… aku sangat berutang kepadamu!” Kata
perempuan itu yang tak asing lagi ku dengar.
“Tunggu.. kamu perempuan yang mengambil Ollateku kan?”
Kataku sambil member plester kecil yang
hampir habis ke bahunya, yang aslinya kubuat untuk menutupi luka di punggung
tanganku, tapi itu lebih penting ku berikan kepada perempuan itu.
“Iya maaf, memang benar tetang katamu tadi siang, ku harap
kau memaafkanku” Katanya sambil memohon.
Aku
tersenyum “ Tak apa, memang isi koper ini apa?” Tanyaku heran.
“Isinya uang untuk membantu masalah gedung sekolah ini,
koper ini aku masukan ke bagasi mobilku, lalu ku ambil tadi, dan entah kenapa
pria gila itu mau mengambil kperku” Jelasnya sambil berdiri.
Memang
semua murid dari sekolah ini tajir tajir. Yang semua berangkat dengan mobilnya
sendiri, tak heran dengan kepopuleranya sekolah ini.
“Biar aku yang membawakan koper ini, berat juga” Kataku
sambil menarik koper itu.
“Mau kemana?” Tanyaku lagi.
“Ke ruang kepala sekolah” Jawabnya dengan lembut. Padahal
tadi siang dia sangat kasar.
Aku
mengangguk lalu menarik koper itu dengan tangan kanan, dan yang kiri membantu
wanita itu jalan.
“Namamu siapa?” Tanya wanita itu.
“Aku Kelly Cenhart, panggil aku Kelly” Kataku dengan
bersenyum.
“Kelly ya, makasih ya Kelly. Namaku Casey Vyne panggil Casey
ya” Katanya dengan senyum ramah.
Aku
hanya tersenyum menganggapinya.